Muhammad Abdullah Azzam
12 September 2020•Update: 14 September 2020
Michael Hernandez
WASHINGTON
Israel dan Bahrain pada Jumat sepakat untuk menjalin hubungan diplomatik penuh dalam terobosan kedua antara negara tetangganya Uni Emirat Arab (UEA) yang menormalisasi hubungan dengan Israel bulan lalu.
Perjanjian terbaru dibahas selama percakapan telepon antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa, menurut pernyataan bersama Amerika Serikat (AS)-Bahrain-Israel yang di-posting di Twitter oleh Presiden AS Donald Trump.
Pernyataan itu memuji kesepakatan tersebut sebagai "terobosan bersejarah" yang dikatakannya akan meningkatkan perdamaian di kawasan itu.
"Pembukaan dialog langsung dan hubungan antara dua masyarakat dinamis dan ekonomi maju akan melanjutkan transformasi positif Timur Tengah dan meningkatkan stabilitas, keamanan dan kemakmuran di kawasan," kata Trump.
Berbicara kepada wartawan di Oval Office saat AS memperingati serangan teroris 11 September 2001, Trump menggembar-gemborkan kesepakatan tersebut, mengatakan bahwa ketika dia menjabat pada 2017, Timur Tengah "dalam keadaan kacau balau".
"Bahkan pejuang yang hebat pun lelah berperang, dan mereka lelah berperang," ungkap dia.
"Saya bisa melihat banyak hal baik terjadi terkait Palestina."
Keputusan untuk menormalkan hubungan datang selang satu minggu sebelum UEA dan Israel secara resmi akan menandatangani perjanjian mereka di AS.
Kepemimpinan Palestina sebelumnya mengecam kesepakatan UEA-Israel, mengatakan itu tidak akan melayani kepentingan Palestina dan mengabaikan hak-hak Palestina.
Otoritas Palestina mengatakan kesepakatan apa pun dengan Israel harus didasarkan pada Prakarsa Perdamaian Arab 2002 dengan prinsip "tanah untuk perdamaian" dan bukan "perdamaian untuk perdamaian".