Rıskı Ramadhan
14 Desember 2017•Update: 15 Desember 2017
Turgut Alp Boyraz, Eshat Fırat
RAMALLAH
Israel memperpanjang masa penahanan remaja Palestina berusia 16 tahun yang menjadi simbol protes terhadap keputusan Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Rabu.
Pengadilan militer di Israel memperpanjang masa tahanan Fawzi al-Juneidi hingga Senin.
Al-Juneidi berkali-kali dipukuli, ditendang, dan diseret oleh tentara Israel di kota Hebron, Tepi Barat pada Kamis lalu.
Kemudian Al-Juneidi dibawa ke Penjara Militer Ofer di Israel dengan mata ditutup kain.
Usai persidangan, paman pemuda ini, Rashad al-Juneidi kepada Anadolu Agency mengatakan bahwa keponakannya dituduh “melempar batu kepada tentara”.
Rashad menjelaskan bahwa pengadilan memutuskan untuk menunda persidangan dan tetap menahan keponakannya di penjara militer hingga Senin.
"Keponakan saya menolak tuduhan jaksa bahwa dia telah melempar batu ke tentara Israel. Dia bilang dia keluar untuk memenuhi beberapa kebutuhan keluarganya dan terjebak di tengah kejadian," kata sang paman.
Rashad mengatakan, dalam persidangan keponakannya juga mengungkapkan bahwa sejumlah tentara menghadang dan menutup matanya saat dia mencoba melarikan diri dari bom suara dan lokasi kejadian.
Al-Juneidi akan kembali menghadap hakim militer pada Senin.
Remaja tersebut mulai dikenal secara luas setelah fotonya menjadi viral di media sosial.
Penangkapan Al-Juneidi terjadi pada saat wilayah pendudukan Palestina bergolak karena aksi-aksi unjuk rasa menentang keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan mengumumkan rencana memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke kota yang diperebutkan tersebut.