By Jeffrey Moyo
CHIPINGE, Zimbabwe
Kelompok tari tradisional Rwanda menghibur para pengungsi di kamp Tongogara di Zimbabwe. Mereka menikmati perayaan Hari Pengungsi Sedunia, walau terlambat.
Di provinsi Manicaland, Zimbabwe, kota Chipinge yang berjarak sekitar 500 kilometer jauhnya dari ibukota Harare, kamp pengungsi terbesar di negara Afrika Selatan itu menandai perayaan tersebut hampir 2 bulan setelah tanggal sebenarnya.
Namun selama perayaan berlangsung dengan meriah, seorang remaja yang tengah hamil dari Rwanda duduk sendiri di bawah matahari, di luar tempat tinggal sementaranya, mengabaikan keramaian di sekitarnya.
Janvier Uwineza mengatakan, penyakitnya menghalangi dia mengikuti perayaan itu.
“Saya didiagnosis positif HIV 2 bulan lalu. Saya hamil dan sudah mengkonsumsi obat anti-retroviral dan diberikan beberapa pil lainnya. Nevirapine untuk mencegah janin saya tertular infeksi HIV,” kata Uwineza kepada Anadolu Agency.
Uwineza lahir di pemukiman yang menjadi rumah bagi 10.000 pengungsi itu. Orang tuanya kabur dari Rwanda pada 1994, ketika di negara tersebut terjadi genosida.
“Orang tua saya meninggal dalam kecelakaan sekitar 3 tahun lalu,” katanya. “Sejak mereka meninggal dunia, hidup saya memburuk.”
Uwineza mengatakan dia tak punya pilihan lain, selain berpaling ke prostitusi.
“Dengan pria-pria yang jauh lebih tua – mungkin harus saya katakan, baik pria muda maupun tua – mengambil kesempatan dari keadaan saya yang terpuruk. Beberapa memaksa saya untuk berhubungan intim, sering kali tanpa menggunakan kondom,” ingatnya.
“Lalu saya hamil, dan saya bahkan tidak tahu siapa ayahnya,” tambahnya.
Namun Uwineza tahu ia bukan satu-satunya perempuan dalam kondisi pilu semacam ini; banyak yang seperti dia di kamp pengungsi itu.
Tak jauh dari tendanya, terdengar suara bayi menangis saat ibunya yang masih remaja memandikannya.
Tohwindo Kahwuna, 16 tahun, terbatuk-batuk. Bayinya pun tampak batuk dan pilek.
“Saya sedang sakit, seperti yang bisa Anda lihat, dan semua juga bisa lihat. Bayi saya juga sakit. Sebulan sebelum saya melahirkan, suster di klinik pengungsi mengatakan saya positif mengidap HIV. Mereka mengatakan sudah terlambat untuk mencegah agar anak saya tidak tertular,” cerita Kahwuma kepada Anadolu Agency.
Saat ini, Kahwuma dan anaknya juga dalam terapi anti-retroviral.
Sesungguhnya, tidak ada data resmi mengenai jumlah ibu remaja di Tongogara. Namun organisasi HAM dari Chipinge, Platform for Youth Development, memperkirakan ada 115 ibu di bawah umur di sana.
“Dari 115 ibu muda pengungsi di kamp Tongogara, 60 persen adalah orang tua tunggal dan 30 persennya terinfeksi HIV,” kata Claris Madhuku, direktur Platform, kepada Anadolu Agency.
“Perempuan yang datang ke sini sebagai pengungsi tanpa orang tua atau keluarga lain menjadi mangsa bagi laki-laki sesama pengungsi. Ada yang menghamili mereka, ada pula yang menulari HIV dan ADIS,” jelas Madhuku.
Kini, badan pengungsi PBB (UNHCR) sedang mempromosikan program konseling dan pemeriksaan HIV/AIDS di kamp itu. Tingkat prevalensi HIV/AIDS di sana kini sebesar 3 persen.
news_share_descriptionsubscription_contact
