Mesut Zeyrek
11 Maret 2018•Update: 12 Maret 2018
Mesut Zeyrek
KOLN, Jerman
Kekerasan dan tekanan kelompok teroris terhadap Muslim Turki di luar negeri ditunjukkan pada sebuah halaman web yang berafiliasi dengan PYD/PKK setelah kelompok teror itu mengunggah rekaman video serangan pada hari Jumat dini hari, di sebuah masjid, di wilayah barat daya Jerman.
Masjid Aksemsettin - milik Komunitas Islam Muslim Turki National View (IGMG) - di kota Lauffen am Neckar diserang pada pukul 02.00 pagi (0100GMT) pada hari Jumat.
Rekaman video tentang serangan tersebut telah diposting di halaman web yang berafiliasi dengan PKK Roja Civan, yang menunjukkan empat orang menyerang jendela dan pintu masjid dengan bom molotov, sementara penyerang lainnya memecahkan jendela dengan bebatuan.
Penyerang kemudian melarikan diri dari tempat kejadian.
Postingan propaganda PKK lainnya juga ditemukan di halaman web tersebut, yang mengatakan, "Selama serangan terhadap Afrin masih berlanjut, perlawanan akan tumbuh setiap hari."
Pernyataan itu mengacu pada kampanye kontra-terorisme yang dipimpin Turki saat ini di wilayah barat laut Suriah.
Sejumlah masjid telah diserang oleh pendukung PYD/PKK di beberapa kota di Jerman sejak 20 Januari lalu, ketika Operasi Ranting Zaitun dimulai.
PKK telah dilarang di Jerman sejak 1993, namun tetap aktif, dengan hampir 14 ribu pengikut, di antaranya penduduk imigran Kurdi.
Turki telah lama mengkritik Jerman karena tidak melakukan tindakan serius terhadap PKK, yang menggunakan negara tersebut sebagai platform untuk kegiatan penggalangan dana, rekrutmen, dan propaganda mereka.
Jerman memiliki komunitas Turki dengan jumlah mencapai tiga juta orang, yang kebanyakan merupakan keturunan Turki yang lahir di Jerman, atau mereka yang kakek neneknya pindah ke negara itu pada kurun waktu tahun 1960an.
Menurut Staf Umum Turki, Operasi Ranting Zaitun bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah tersebut serta melindungi orang-orang Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.
Operasi tersebut dipastikan digelar di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, resolusi Dewan Keamanan PBB, hak pembelaan diri berdasarkan piagam PBB, dan penghormatan terhadap integritas wilayah Suriah, katanya.
Militer Turki juga mengatakan bahwa mereka hanya menargetkan kelompok teror dan memberikan "perhatian sepenuhnya" untuk tidak membahayakan warga sipil.