Rhany Chairunissa Rufinaldo
02 Juli 2019•Update: 02 Juli 2019
Andrew Wasike
NAIROBI, Kenya
Jumlah warga Kongo yang mengungsi ke Uganda untuk menjauhi kekerasan antar-etnis meningkat dua kali lipat selama sebulan terakhir menjadi 8.000 orang.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) dalam sebuah laporan yang dirilis oleh kantor regional mereka di Nairobi, Selasa.
Kelompok itu mengatakan bahwa bantuan darurat untuk para pengungsi semakin cepat habis dan pusat-pusat penampungan pengungsi menjadi kewalahan.
Sebagian besar dari 29.000 pengungsi yang datang ke negara tetangga Uganda melarikan diri dari wabah virus Ebola dan bentrokan antar etnis.
"Tampaknya akhir dari [fenomena ini] tidak terlihat. Hal ini menyebabkan kekurangan bantuan darurat, yang mengancam kesehatan dan kehidupan para pengungsi di permukiman. Uganda tidak bisa, dan tidak seharusnya, menanggung beban ini sendirian," kata Melchizedek Malile, pejabat direktur Dewan Pengungsi Norwegia (NRC)
“Kami sangat mendesak lembaga donor dan komunitas internasional untuk meningkatkan dukungan mereka bagi para pengungsi di Uganda. Para pengungsi yang tiba sangat membutuhkan tempat berlindung, makanan, air bersih dan sanitasi. Dengan lebih banyak dana donor, lebih banyak nyawa bisa diselamatkan," tambah dia.
Permintaan bantuan yang diajukan PBB untuk Uganda adalah USD1,03 miliar, tetapi hingga saat ini hanya USD147 juta yang baru terpenuhi.
“Negara-negara kaya harus bertindak berdasarkan janji mereka untuk berbagi tanggung jawab. Negara-negara seperti Uganda sedang berjuang untuk mengatasinya sebaik mungkin dan mereka sangat membutuhkan sumber daya untuk mengurangi penderitaan para pengungsi yang putus asa,” ujar Malile.