Mücahithan Avcıoğlu
14 Mei 2026•Update: 14 Mei 2026
Sejumlah kapal kargo dan tanker yang terkait dengan China melintasi Selat Hormuz melalui koridor pelayaran “aman” milik Iran dalam 24 jam terakhir, di tengah kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing untuk membahas perang Iran dan pembukaan kembali jalur energi strategis tersebut.
Data platform pelacakan kapal MarineTraffic pada Rabu menunjukkan kapal tanker minyak berbendera China Yuan Hua Hu berlayar melintasi selat itu di selatan Pulau Larak, Iran.
Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) kapal tersebut, yang menyiarkan posisi, asal, dan tujuan kapal, mencantumkan tujuan pelayaran sebagai “pemilik dan awak China”.
Kapal Yuan Hua Hu dimiliki China COSCO Shipping Corporation yang berbasis di Shanghai.
Rute yang dilalui kapal itu merupakan bagian dari jalur pelayaran yang disebut Iran sebagai koridor “aman” dan berbasis izin di Selat Hormuz, salah satu jalur laut paling penting di dunia untuk pengiriman minyak dan gas alam cair.
Menurut analisis data pelayaran, sedikitnya empat kapal yang terkait dengan China menggunakan koridor yang sama sejak Selasa hingga Rabu.
Kapal tanker minyak dan kimia Starway melintasi selat tersebut pada Selasa dari perairan Oman menuju wilayah perairan utara Uni Emirat Arab.
Sementara itu, kapal tanker Deepblue yang dilaporkan dimiliki perusahaan berbasis di Shanghai berlayar ke arah sebaliknya dari barat ke timur.
Kapal pengangkut kendaraan Xian Jiang Kou, yang berangkat dari Arab Saudi pada 16 Maret dan bertahan di Teluk Persia hingga Selasa, juga melintasi Selat Hormuz menggunakan jalur pelayaran Iran di selatan Pulau Larak.
AIS kapal itu mencantumkan tujuan sebagai “kapal dan awak China”.
Pergerakan kapal-kapal tersebut terjadi ketika Trump melakukan kunjungan kenegaraan ke China yang sempat tertunda enam pekan akibat perang AS dan Israel melawan Iran.
Dalam pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping, Trump diperkirakan akan meminta dukungan lebih besar dari Beijing, yang memiliki hubungan dekat dengan Teheran, guna mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas komersial internasional.
Selat Hormuz praktis tetap tertutup bagi sebagian besar kapal sejak perang Iran dimulai, sehingga mengganggu arus energi dan logistik global.
Dalam beberapa pekan terakhir hanya sedikit kapal yang melintas, dengan Iran hanya mengizinkan transit terbatas melalui sistem koridor berbasis izin yang diterapkannya.