Chandni
08 Mei 2018•Update: 08 Mei 2018
ANKARA
Dunia gagal mengambil langkah nyata menghentikan genosida Muslim Rohingya di Myanmar, kata kepala Jaringan Hak Asasi Manusia Burma, yang berbasis di Inggris, pada Senin.
"Komunitas internasional tidak mengambil langkah-langkah konkrit terhadap pemerintah Myanmar dan pasukan pemerintah yang menindas Muslim Rakhine, dan membiarkan mereka menyerang makin keras," kata Kyaw Win kepada Anadolu Agency dalam wawancara telepon.
Dia juga menuduh PBB tidak bertindak menanggapi "genosida nyata" yang terus terjadi, walaupun delegasi Dewan Keamanan PBB sudah mengunjungi Rakhine, tempat terjadinya penindasan.
"DK PBB tidak bisa mengambil suara bulat untuk menyeret pemerintah Myanmar ke hadapan Mahkamah Pidana Internasional," lanjut dia.
Win juga menyampaikan terima kasih kepada Turki yang terus membantu etnis Rohingya di "masa yang kelam" ini.
Aktivis itu mengkhawatirkan nasib para Rohingya di Bangladesh, dimana kesehatan dan keamanan sekitar 200ribu pengungsi terancam dalam musim hujan yang akan datang.
Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750ribu warga Rohingya menyeberang dari Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB. Mereka melarikan diri dari operasi keamanan yang membunuh, menjarah rumah dan membakar desa Rohingya.
Setidaknya 9.000 Rohingya tewas di Rakhine antara 25 Agustus dan 24 September, menurut lembaga Dokter Lintas Batas (MSF).
Dalam sebuah laporan tertanggal 12 Desember, MSF mengatakan 71,7 persen Rohingya atau sekitar 6.700 orang tewas akibat kekerasan. Itu termasuk 730 anak-anak dibawah usia 5 tahun.
PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan –termasuk bayi dan anak-anak—pemukulan brutal dan penghilangan oleh petugas keamanan. Dalam sebuah laporan, penyidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut merupakan kejahatan kemanusiaan.