Maria Elisa Hospita
16 Mei 2019•Update: 16 Mei 2019
Beyza Binnur Donmez
ANKARA
Organisasi Nasional Rohingya Arakan mengatakan bahwa stabilisasi diperlukan di Arakan, Myanmar, agar orang-orang yang ingin kembali ke tempat asal mereka merasa aman.
"Turki dapat memberikan kontribusi besar untuk stabilisasi itu," ujar Nurul Islam, ketua organisasi itu, saat acara buka puasa yang diselenggarakan oleh organisasi Turki-Eropa Hasene IGMG.
Hasene IGMG adalah organisasi nirlaba yang didirikan oleh orang-orang Turki yang bekerja di Jerman.
Menurut dia, sebanyak 500.000 Rohingya hidup dalam kondisi yang memprihatinkan, sementara hampir 800.000 orang mencari perlindungan di Bangladesh sebagai pengungsi.
"Kami tidak ingin menjalani kehidupan sebagai pengungsi, baik di Bangladesh ataupun di tempat lain. Kami ingin kembali ke tanah air kami, tapi kami tak bisa kembali ke tempat di mana genosida masih berlangsung," kata Islam.
Islam menyebut permintaan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina agar Majelis Umum PBB menetapkan zona aman di Negara Bagian Rakine sebagai "langkah positif".
Dia mengatakan orang-orang Rohingya menyambut baik Misi Pencari Fakta PBB tentang Myanmar yang mendesak komunitas internasional untuk menyetop dukungan keuangan ke militer Myanmar.
Islam menambahkan bahwa komandan militer perlu diisolasi dan dibawa ke pengadilan yang kredibel untuk menjawab tuduhan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida.
Badan Pembangunan Internasional Ontario mengungkapkan hampir 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh pasukan negara Myanmar sejak 25 Agustus 2017.
Dalam sebuah laporan yang berjudul "Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira", OIDA menyebutkan lebih dari 34.000 Rohingya dibakar hidup-hidup, lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, sementara 17.718 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar. Lebih dari 115.000 rumah Rohingya juga dibakar dan 113.000 lainnya dirusak.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan operasi militer terhadap komunitas Muslim minoritas itu pada Agustus 2017.
Rohingya, disebut-sebut PBB sebagai kaum paling teraniaya di dunia, telah menghadapi sejumlah serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012.
PBB juga mencatat adanya pemerkosaan massal, pembunuhan, pemukulan brutal, dan penghilangan paksa yang dilakukan oleh tentara Myanmar.
Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan pelanggaran seperti itu dapat dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan.