13 September 2017•Update: 14 September 2017
BERLIN
Kepala anti teror Uni Eropa memuji Turki atas pengawasan ketat di perbatasannya dengan Suriah. Meskipun sempat ada kekhawatiran, operasi Mosul di Irak tidak memicu kembalinya militan Daesh ke Eropa dalam jumlah besar.
"Sejauh ini, Turki telah menjaga perbatasannya dengan sangat baik dan saat ini tidak mudah bagi siapa pun untuk melakukan perjalanan dari daerah konflik ke Eropa," kata Gilles de Kerchove kepada harian Jerman Die Welt, Selasa.
"Setelah terusirnya Daesh dari Mosul, tidak banyak pejuangnya yang kembali ke Eropa. Kekhawatiran kami tidak terbukti. Saya rasa di waktu mendatang, tidak banyak pejuang Daesh yang akan kembali ke Eropa," tambahnya.
Menurut estimasi de Kerchove, kelompok teroris mulanya memiliki 5.000 pejuang asing yang melakukan perjalanan dari beberapa negara Eropa ke Irak dan Suriah selama beberapa tahun terakhir.
"Di antara jumlah tersebut, 1.500 telah kembali, dan sekitar 1.000 pejuang telah tewas. Dari 2.500 pejuang Eropa yang menetap di Irak dan Suriah, sebagian besarnya tewas dalam pertempuran baru-baru ini, atau dibunuh oleh Daesh karena kelompok tersebut akan menindak tegas mereka yang ingin pergi," jelasnya.
De Kerchove juga mengatakan bahwa pejuang asing Daesh telah melakukan perjalanan ke daerah konflik lainnya seperti Somalia, Libya, atau Yaman.
Selain menekankan bahwa Daesh telah menderita kekalahan telak dari operasi militer di Mosul dan Raqqah, de Kerchove juga memperingatkan untuk tidak meremehkan ancaman dari kelompok teroris, yang dikatakan telah mengubah strategi dan taktiknya. De Kerchove juga menekankan bahwa Daesh saat ini melancarkan serangan teror secara kurang rinci dan kompleks.
"Organisasi teroris tidak memanggil simpatisannya dari Eropa ke Suriah atau Irak untuk bergabung dalam pertempuran, namun lebih meminta mereka melancarkan serangan di mana mereka tinggal," tambahnya.
Juli, tentara Irak - yang didukung oleh koalisi udara AS - menguasai kembali Mosul dari Daesh setelah melancarkan operasi pembebasan selama sembilan bulan yang seringkali melibatkan pengeboman di kawasan permukiman.
Di Raqqah, koalisi pimpinan AS melancarkan operasi militer pada awal Juni, untuk menguasai kembali kota tersebut, yang diklaim Daesh sebagai ibu kota "khilafah".