Rhany Chairunissa Rufinaldo
24 September 2018•Update: 24 September 2018
Walid Abdullah
TRIPOLI
Situasi di ibu kota Libya, Tripoli, pada Senin pagi mulai tenang namun tetap siaga beberapa jam setelah diguncang serangan roket.
Menurut seorang koresponden Anadolu Agency yang berbasis di daerah itu, tiga rudal menyerang distrik Abu Salim di Tripoli pada Senin pagi tanpa menimbulkan korban.
Masih belum jelas siapa yang menembakkan rudal.
Malam sebelumnya, bentrokan bersenjata - yang pertama kali meletus pada 26 Agustus - berlanjut di Tripoli selatan antara milisi yang berafiliasi dengan pemerintah persatuan nasional Libya dan kelompok bersenjata saingannya.
Kekerasan pertama kali meletus akhir bulan lalu setelah Brigade Ketujuh (berafiliasi dengan Departemen Pertahanan yang berbasis di Tripoli) menuduh Brigade Revolusi Tripoli, kelompok saingan, menyerang basisnya di pinggiran selatan kota.
Pada 4 September, gencatan senjata yang ditengahi PBB menghentikan sementara pertempuran itu, yang dilanjutkan enam hari kemudian dan terus berlangsung sejak saat itu.
Brigade Ketujuh, yang berasal dari kota Tarhuna (terletak 65 kilometer di tenggara Tripoli), secara resmi disetujui oleh pemerintah persatuan pada tahun 2016.
Namun, pada bulan April tahun ini, Dewan Kepresidenan Libya (yang berafiliasi dengan pemerintah persatuan) mengumumkan pembubaran Brigade Ketujuh, yang tetap terus mempertahankan kehadiran pasukan bersenjatanya di ibu kota.
Libya masih dirundung gejolak sejak 2011, ketika pemberontakan berdarah yang didukung NATO menyebabkan penggulingan dan kematian Presiden Muammar Gaddafi setelah lebih dari empat dekade berkuasa.
Sejak saat itu, terjadi perpecahan politik di Libya antara dua poros kekuasaan - satu di Tobruk dan satu lagi di Tripoli - dan sejumlah kelompok milisi bersenjata.