17 September 2017•Update: 17 September 2017
Shuriah Niazi
NEW DELHI, India
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia India menentang rencana pemerintah untuk mendeportasi Muslim Rohingya, ujar Komisi tersebut pada Sabtu.
Komnas HAM India yang berada di New Delhi menentang deportasi atas "alasan kemanusiaan" karena Muslim Rohingya akan menghadapi penganiayaan sepulangnya kembali ke Myanmar.
Bulan lalu, Komnas HAM India juga telah mengeluarkan pernyataan ke pemerintah India, meminta sebuah laporan terperinci soal rencana ini dalam kurun waktu empat minggu.
"Tidak diragukan bahwa para pengungsi adalah warga negara asing, tapi mereka adalah manusia dan sebelum mengambil langkah besar, pemerintah India harus melihat setiap aspek dari segala situasi, dengan tetap mengingat bahwa komunitas Rohingya, yang telah menyeberang ke perbatasan India dan tinggal lama di sini, takut ditindas begitu mereka diminta pulang ke negara asal," kata pernyataan tersebut.
Pada hari Jumat, Menteri Dalam Negeri Rajnath Singh mengatakan bahwa pemerintah akan mengajukan surat pernyataan ke Mahkamah Agung pada hari Senin.
Dalam surat salinan yang diduga berasal dari Kementerian Dalam Negeri, dan bocor ke media pada hari Kamis, Muslim Rohingya disebut-sebut sebagai "ancaman serius terhadap keamanan nasional" yang konon harus dideportasi demi kepentingan bangsa.
India juga khwatir pengungsi Rohingya dimanfaatkan kelompok terror untuk menciptakan masalah.
Pemerintah akan mengajukan gugatannya di Mahkamah Agung untuk menanggapi tuntutan yang diajukan dua pengungsi Rohingya yang tinggal di India.
Dalam petisi tersebut, Mohammad Shaqir dan Mohammad Salimullah mengemukakan bahwa deportasi mereka akan melanggar konstitusi India.
Muslim Rohingya tidak diterima Myanmar atau tetangganya di Bangladesh, dan hidup dalam ketakutan terus-menerus setelah pemerintah India berencana mendeportasi 40.000 pengungsi.
Di India, mereka kebanyakan menetap di negara bagian Andhra Pradesh, Manipur, Rajasthan, Uttar Pradesh, New Delhi, Maharashtra, Rajasthan dan Haryana.
Sementara itu, seorang pejabat kesehatan di ibukota Bangladesh, Dhaka, mengatakan bahwa Muslim Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar terus menghadapi risiko kesehatan.
Sejauh ini, 14 orang telah diidentifikasi menderita campak, infeksi Hepatitis B dan C, bahkan HIV / AIDS, Mohammed Abdus Salam mengatakan kepada Anadolu Agency.
Kasus tuberkulosis, pneumonia, malaria, bronkiolitis dan malnutrisi di kalangan anak-anak juga telah dilaporkan.
Salam mengatakan pemerintah Bangladesh terus berupaya mengatasi masalah ini.
"20.000 vaksin wasir, 40.000 vaksin polio dan 38.000 botol tablet vitamin dan vaksin rubela akan diberikan kepada 1,20 lakh [120.000] anak-anak yang berusia kurang dari 15 tahun," tambahnya.
*Mutasim Billah berkontribusi untuk laporan ini dari Dhaka.