Umar Idrıs
20 Januari 2020•Update: 21 Januari 2020
BERLIN
Konferensi perdamaian Libya di Berlin menyepakati langkah-langkah baru untuk mendukung gencatan senjata dan embargo senjata, kata Kanselir Angela Merkel pada Minggu.
Berbicara pada konferensi pers di akhir konferensi yang mempertemukan kekuatan-kekuatan dunia dan aktor-aktor regional, termasuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Merkel mengatakan semua peserta sepakat bahwa tidak ada solusi militer untuk konflik Libya.
"Kami mencapai kesepakatan tentang rencana komprehensif," katanya, sambil menambahkan bahwa mereka juga menyetujui langkah-langkah baru untuk secara ketat mulai melakukan embargo senjata.
Merkel mengatakan pihak-pihak yang bertikai juga sepakat untuk menunjuk anggotanya ke komisi militer dengan lima anggota dari masing-masing pihak seperti yang diinginkan oleh PBB untuk memantau implementasi gencatan senjata.
Sejak mendiang penguasa Muammar Gaddafi terguling pada 2011, dua kursi kekuasaan telah muncul di Libya: panglima perang Khalifa Haftar di Libya timur, didukung terutama oleh Mesir dan UEA, dan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) di Tripoli, yang menikmati pengakuan PBB dan komunitas internasional.
Secara terpisah, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan setelah konferensi, “Berkat pertemuan Berlin, hari ini dimungkinkan untuk menerima lima delegasi militer dari pihak Marshall Haftar. Kami sudah memiliki tiga, dan sekarang kami memiliki dua lagi di sisi LNA, ”merujuk pada apa yang disebut Tentara Nasional Libya".
"Jadi, kita sekarang dalam kondisi untuk bersidang di komite militer Jenewa dalam beberapa hari ke depan."
Guterres juga mengatakan: "Negara-negara anggota, bersama dengan organisasi regional dan internasional telah mengirim sinyal kuat bahwa kami berkomitmen penuh untuk mendukung resolusi damai krisis Libya."
Tiga poin
Dia menyoroti tiga poin yang diangkat pada KTT, dengan mengatakan: "Pertama, saya tidak bisa menekankan kesimpulan KTT bahwa tidak ada solusi militer untuk konflik di Libya."
Dia menambahkan: "Semua peserta berkomitmen untuk menahan diri dari campur tangan dalam konflik bersenjata atau urusan internal Libya. "
"Kedua, kami meminta semua aktor untuk menahan diri dari kegiatan apa pun yang memperburuk konflik," katanya.
Guterres juga mengatakan dia mendesak semua pihak untuk menerapkan embargo senjata Dewan Keamanan PBB.
"Ketiga, kembalinya proses politik sangat penting," kata Guterres, dengan mengatakan semua peserta sepakat untuk menerapkan gencatan senjata skala penuh di Libya.
Pemerintah Libya yang diakui secara internasional di Tripoli telah diserang oleh Haftar sejak April lalu, merenggut nyawa lebih dari 1.000 orang.
Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA), pendukung utama Haftar, telah dikecam keras oleh pemerintah Libya yang sah karena memicu konflik.
Menjelang konferensi, Erdogan, pemimpin penting dalam pertemuan itu, menegaskan kembali dukungan kuat Turki untuk pemerintah Libya yang diakui secara internasional.
Dia juga mengecam Mesir, UEA, dan Arab Saudi karena mendukung pasukan Haftar, yang, katanya, "berupaya melakukan kudeta di negara itu."