Omer Tugrul Cam
BRUSSELS
Para pemimpin Uni Eropa akan bertemu di Brussel pada Kamis untuk acara diskusi selama dua hari tentang ketegangan di Mediterania Timur dan hubungan dengan Turki.
Presiden Dewan Eropa Charles Michel pada Selasa mengirim surat kepada para pemimpin Uni Eropa untuk menyampaikan tujuan KTT tersebut.
Dia mengatakan fokus utama pertemuan itu adalah pada hubungan blok itu dengan Turki pada ketegangan baru-baru ini di Mediterania Timur. Selain itu hubungan Uni Eropa-China, keracunan Alexei Navalny, situasi di Belarusia dan eskalasi baru-baru ini di Nagorno-Karabakh yang diduduki Armenia juga akan dibahas.
Para pemimpin juga akan membahas pandemi virus korona baru dan pengaruhnya terhadap ekonomi Eropa.
Tidak ada sanksi untuk Belarusia
Bertemu pada awal September untuk membahas masalah internasional dan Belarusia, para menteri luar negeri Uni Eropa tidak dapat mencapai kesepakatan mengeluarkan sanksi terhadap negara tersebut.
"Para menteri membahas masalah sanksi dan meski ada kemauan yang jelas untuk mengadopsi sanksi tersebut, itu tidak mungkin dilakukan hari ini karena suara bulat yang diperlukan tidak tercapai," kata kepala kebijakan luar negeri blok itu Josep Borrell kepada wartawan setelah rapat Dewan Urusan Luar Negeri Uni Eropa.
Dia mengatakan sanksi tidak dapat disetujui selama pertemuan karena Siprus Yunani ingin hukuman terhadap Belarus dikaitkan dengan sanksi terhadap Turki atas sengketa pengeboran gas di Mediterania Timur.
Hubungan multidimensi
Dalam beberapa pekan terakhir, diplomat Uni Eropa, yang berbicara tanpa menyebut nama, menggarisbawahi bahwa pentingnya hubungan multi-dimensi antara Uni Eropa dan Turki.
Para diplomat menekankan perlunya melihat hubungan Uni Eropa-Turki dari "perspektif geopolitik yang lebih luas" meskipun ada tuntutan dari Prancis, Yunani, dan pemerintah Siprus Yunani untuk kebijakan dan sanksi yang lebih keras terhadap Ankara.
Mereka menyoroti pentingnya kerja sama dengan Turki - negara kandidat Uni Eropa - dalam masalah-masalah seperti migrasi, perdagangan, energi dan keamanan, sejumlah anggota Uni Eropa menyuarakan keprihatinan bahwa mengecualikan Turki dapat menguntungkan Rusia.
Banyak pemimpin Uni Eropa telah memilih untuk meningkatkan hubungan dengan Turki, Rusia dan China, mengingat kebangkitan global dan regional negara-negara ini dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam hal ini, Borrell mengatakan kepada Parlemen Eropa dua minggu lalu bahwa "kerajaan-kerajaan lama akan kembali" dan ini menciptakan lingkungan baru.
"Kerajaan lama akan kembali. Setidaknya ada tiga dari mereka. Kita dapat mengatakan Rusia, China dan Turki, kerajaan besar di masa lalu. Mereka datang kembali dengan pendekatan pada lingkungan terdekat mereka dan secara global, yang mewakili lingkungan baru kita. Dan, Turki adalah salah satu elemen yang mengubah lingkungan kita," ujar dia.
Sengketa Mediterania Timur
Ketegangan baru-baru ini meningkat selama eksplorasi energi di Mediterania Timur.
Yunani terus mempermasalahkan eksplorasi energi Turki di Mediterania Timur, mencoba mengkotakkan wilayah maritim Turki berdasarkan pulau-pulau kecil di dekat pantainya.
Turki, negara dengan garis pantai terpanjang di Mediterania, telah mengirim kapal bor dengan pengawalan militer untuk mengeksplorasi energi di landas kontinennya dan menegaskan bahwa Turki dan Republik Turki Siprus Utara juga memiliki hak di wilayah tersebut.
Untuk mengurangi ketegangan, Turki menyerukan dialog untuk memastikan pembagian yang adil dari sumber daya kawasan.
Pada Selasa, Kementerian Luar Negeri Yunani mengatakan bahwa dialog tentang eksplorasi antara Turki dan Yunani Putaran ke-61 akan segera dimulai.
Perundingan eksplorasi itu terakhir diadakan di Athena pada 1 Maret 2016.
Setelah itu, perundingan bilateral dilanjutkan dalam bentuk konsultasi politik tetapi tidak kembali ke kerangka eksplorasi.
news_share_descriptionsubscription_contact

