Safvan Allahverdi
COX'S BAZAR / BANGLADESH
Lembaga bantuan Turki pada Minggu membagi-bagikan makanan kepada warga Muslim Rohingya di perbatasan Bangladesh yang melarikan diri dari negara bagian Rakhine di Myanmar.
Bantuan makanan itu termasuk nasi, minyak goreng, kacang arab, tepung, garam dan gula diberikan kepada 1.300 keluarga di Balukali, satu dari lima kamp pengungsi terbesar di perbatasan kedua negara tersebut.
Sebuah hukum yang disahkan di Myanmar pada 1982 mencegah warga Rohingya mendapatkan kewarganegaraan. Banyak dari mereka sekarang tanpa kewarganegaraan yang menyulitkan mereka bergerak, mendapatkan pendidikan, pelayanan dan memboleh penyitaan terhadap properti milikmereka.
Yayasan Bulan Sabit Merah Turki mengatakan kondisi "sangat sulit" bagi para pengungsi. Ketua organisasi tersebut Kerem Klinik mengatakan terdapat lebih dari 400.000 Muslim Rohingya di perbatasan Bangladesh dan kebanyakan dari mereka tidak memiliki akses kepada alat-alat kebersihan, kesehatan dan makanan.
Bulan Sabit Merah Turki berdiskusi dengan pihak berwenang Bangladesh untuk mencatat kebutuhan dasar para pengungsi dan membuka jalan untuk menyalurkan bantuan.
Klinik mengatakan lembaganya telah mencapai persetujuan dengan pemerintahan Bangladesh untuk membangun pemukiman pengungsi "yang lebih kokoh dan permanen".
"Kamp ini akan menjadi bagai sebuah kota yang akan menampung hampir 100.000 pengungsi Rohingya dalam kondisi yang lebih baik dengan infrastruktur yang memadai, layanan kesehatan, sekolah, tempat beribadah dan rumah sakit," jelas Klinik. "Kamp ini akan membuka jalan bagi Turki memberikan bantuan kemanusiaan lebih bagi mereka yang membutuhkan."
Lembaga tersebut memiliki cabang di Rakhine dan sudah membawa bantuan ke wilayah tersebut sejak 2012.
Relawan-relawan dari lembaga kemanusiannya lainnya seperti IHH Humanitarian Relief Foundation, Sadaka Tasi, Intenational Assistance and Development Association (ONSUR) juga menyediakan layanan di kamp pengungsi.
PBB menyebut kaum Rohingya sebagai kaum yang paling teraniaya di dunia, yang telah menderita akibat sejumlah serangan sejak kekerasan komunal terjadi pada 2012 yang menewaskan puluhan jiwa.
Oktober tahun lalu, pasukan keamanan Myanmar melancarkan operasi di Distrik Maungdaw, Rakhine, selama lima bulan, yang menurut perwakilan Rohingya telah menewaskan 400 jiwa.
PBB mencatat adanya kejahatan kemanusiaan, termasuk pemerkosaan massal, pembunuhan – terhadap bayi dan anak-anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan paksa oleh pasukan keamanan selama operasi tersebut.
Kekerasan merebak lagi di Rakhine sekitar 2 pekan lalu ketika militer menindak keras warga Rohingya.
Bangladesh yang sudah menampung sekitar 400.000 pengungsi Rohingya dan masih menghadapi gelombang pengungsi lagi.