11 Juli 2017•Update: 11 Juli 2017
Murad al-Erifi
SANAA
Mantan Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, menolak rencana mengambil alih kekuasaan di negara yang dilanda perang tersebut.
Saleh "telah menegaskan dia maupun anaknya tidak berusaha untuk kembali berkuasa", seorang sumber resmi Saleh menuturkan dengan nama anonim karena pembatasan berbicara kepada media massa.
Pekan lalu, situs France's Intelligence Online, mengatakan, Arab Saudi terbuka untuk mengembalikan Saleh beserta keluarganya ke tampuk kekuasaan di Yaman.
Putra Saleh, Ahmed, saat ini berbasis di Uni Emirat Arab (UEA).
Saleh telah memimpin Yaman selama lebih dari tiga dekade sebelum dipaksa mengundurkan diri pada tahun 2012 lewat aksi demonstrasi yang melanda Yaman saat revolusi Arab spring.
Sebelumnya, pada hari Selasa, Abdullah al-Alimi, kepala kantor kepresidenan Yaman, menyebut laporan kembalinya Saleh ke tampuk kekuasaan Yaman sebagai sebuah "ilusi".
Yaman, sebuah negara miskin, terlibat dalam perang saudara pada tahun 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar negara, termasuk ibukota Sanaa.
Pada tahun 2015, Arab Saudi dan sekutunya meluncurkan serangan udara hebat untuk melawan kelompok Houthi dan menopang kekuasaan pemerintahan Yaman.
Menurut pejabat PBB, lebih dari 10.000 orang terbunuh dalam perang tersebut, sementara lebih dari 11 persen penduduk Yaman telah mengungsi sebagai buntut dari konflik tersebut.