Diyar Guldogan
10 Januari 2023•Update: 31 Januari 2023
ANKARA
Pihak Rusia dan Ukraina perlu bertemu untuk mencapai gencatan senjata guna mengakhiri perang yang sedang berlangsung, kata Menteri Pertahanan Nasional Turki Hulusi Akar.
"Sangat penting bagi para pihak untuk berdialog dan bersatu. Untuk itu, syarat yang diajukan para pihak adalah hal-hal yang akan mereka putuskan sendiri," kata Akar kepada wartawan di ibu kota Ankara setelah rapat Kabinet pada Senin.
Dia mengatakan perhatian Turkiye adalah membangun gencatan senjata antara kedua negara tetangga secepat mungkin dan membuka jalan bagi stabilitas dan perdamaian.
"Upaya Presiden kami (Recep Tayyip Erdogan) terus berlanjut sejak hari pertama. Kontribusi penting bagi perdamaian dunia, nilai penting. Seluruh dunia harus memahami ini," tambah Akar.
Turkiye mendapat apresiasi secara internasional karena peran mediatornya yang unik untuk menengahi Rusia dan Ukraina. Upayanya mengarah pada kesepakatan biji-bijian Laut Hitam yang bersejarah, melanjutkan ekspor makanan dari pelabuhan Ukraina yang telah dihentikan sejak perang dimulai Februari lalu.
Erdogan telah berulang kali menekankan keinginannya untuk mempertemukan Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Ukraina Voldoymyr Zelenskyy di Turkiye untuk diskusi resmi guna mengakhiri konflik.
Akar menekankan bahwa upaya Turkiye penting bagi NATO dan Uni Eropa (UE).
“Api ini harus dipadamkan secepat mungkin. Terkadang situasi seperti itu di luar kendali dan bisa mengarah ke arah yang tidak terduga. Untuk mencegahnya, presiden kita melanjutkan seruannya dengan niat baik, mengingat perdamaian regional dalam hal kemanusiaan, politik dan hubungan internasional,” tutur dia.
Pertemuan Turkiye, Rusia, dan Suriah
Soal pertanyaan tentang apakah pertemuan trilateral lain antara menteri pertahanan Turkiye, Rusia dan Suriah akan diadakan, Akar menjawab, "Ini adalah proses. Setelah 11 tahun, hal seperti itu dimulai dengan niat baik murni untuk hubungan kedua negara (Turkiye dan Suriah) dan untuk perdamaian di wilayah tersebut.
Akar menyampaikan harapan bahwa pembicaraan akan berkembang melalui negosiasi timbal balik dan kemudian berubah menjadi situasi yang akan berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas kawasan.
Pada 28 Desember, menteri pertahanan dan kepala intelijen Turkiye, Rusia, dan rezim Suriah bertemu di Moskow untuk melakukan pembicaraan.
Pada pertemuan tersebut, para pejabat tinggi pertahanan sepakat untuk melanjutkan pertemuan tripartit guna memastikan stabilitas di Suriah dan kawasan yang lebih luas.
"Harapan kami adalah akan ada perdamaian, ketenangan, dan stabilitas sebagai hasil dari pertemuan ini dan saudara-saudara Suriah kami yang menjadi tuan rumah di negara kami akan kembali ke tanah mereka secara sukarela, aman dan hormat, sebagaimana dinyatakan dalam piagam PBB," kata Akar.
Kepala pertahanan Turki mengatakan Ankara tidak akan mengambil tindakan apa pun terhadap warga Suriah untuk membuat mereka dalam masalah.
“Oleh karena itu, mereka harus bertindak dengan kesadaran ini dan tidak terprovokasi,” ujar dia.