11 Juli 2017•Update: 12 Juli 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan di hadapan negara-negara anggota OKI dalam konferensi tingkat menteri OKI di Abidjan, Pantai Gading, banyak generasi muda Islam yang terjerat dan menjadi korban ideologi terorisme, radikalisme dan ekstremisme.
Kejadian di Marawi, Filipina, menurutnya harus menjadi wakeup call bagi negara-negara OKI yang menegaskan bahwa telah terjadi regionalisasi terorisme, yang banyak melibatkan generasi muda termasuk perempuan untuk terlibat menjadi teroris dan Foreign Terrorist Fighters (FTF). Generasi muda sangat rawan dan riskan untuk menjadi target utama penjaringan anggota terorisme.
Menlu RI mengajak negara OKI untuk meningkatkan upaya kolektif dalam penanggulangan terorisme, utamanya dengan mengatasi akar masalah dan melakukan kontra narasi terhadap ideologi radikal.
“Memperkuat kerja sama antara negara OKI menjadi mandatory dalam penanggulangan terorisme dan radikalisme, khususnya dalam mencegah terjerumusnya pemuda Islam,” sebut Retno.
Salah satu upaya untuk menangkal paham radikalisme pada generasi muda, menurut Retno adalah melalui pendidikan untuk menciptakan generasi muda yang berkualitas dan berdaya saing.
Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya pendidikan yang baik bagi generasi muda dan untuk menempatkan kaum muda sebagai bagian utama dari pembangunan. Negara-negara anggota OKI perlu merancang pendidikan yang menanamkan nilai toleransi, menghormati satu sama lain, dan perdamaian semenjak dini.
“Kita memiliki tanggung jawab untuk generasi penerus kita, marilah kita menuntun dengan memberikan teladan dan membesarkan mereka dengan nilai Islam yang damai,” urai Retno dalam pertemuan tersebut.
KTM OKI adalah pertemuan puncak tahunan tingkat menteri luar negeri negara-negara anggota OKI yang dilaksanakan untuk mengkaji perkembangan pelaksanaan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan pada Konferensi Tingkat Tinggi (Kepala Negara/Pemerintahan).