MOSKOW
Para menteri luar negeri Rusia dan China membahas perkembangan terakhir di Ukraina melalui telepon pada Kamis.
Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov dan sejawatnya dari China Wang Yi sepakat bahwa alasan krisis saat ini adalah penolakan Kyiv, yang didukung oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, untuk mengimplementasikan Perjanjian Minsk.
Lavrov dan Wang juga menekankan bahwa "Rusia dan China mendesak perlunya semua negara untuk menghormati prinsip keamanan yang tidak dapat dipisahkan."
Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer khusus di wilayah Donbas, Ukraina timur pada Kamis pagi.
Intervensi Rusia mengikuti pengakuan Moskow atas dua wilayah Ukraina timur yang memisahkan diri dari Luhansk dan Donetsk pada hari Senin.
Pengumuman itu menuai kecaman global sebagai pelanggaran terhadap Piagam PBB dan hukum internasional, dengan negara-negara Barat mengumumkan sanksi baru terhadap Rusia.
Ledakan terjadi di beberapa provinsi Ukraina, termasuk ibu kota Kyiv, dan tank dilaporkan melintasi perbatasan dari Belarus ke Ukraina pada Kamis pagi.
Krisis Donbas dan intervensi militer Rusia
“Revolusi Maidan” pada Februari 2014 di Ukraina menyebabkan mantan Presiden Viktor Yanukovych melarikan diri dari negara itu dan pemerintah pro-Barat berkuasa di Ukraina.
Perkembangan itu diikuti pencaplokan wilayah Krimea oleh Rusia secara ilegal dan kelompok separatis di sana mendeklarasikan kemerdekaan di wilayah Donetsk dan Luhansk di Donbas di timur Ukraina, yang keduanya memiliki populasi etnis Rusia yang besar.
Ketika bentrokan meletus antara pasukan separatis yang didukung Rusia dan tentara Ukraina, perjanjian Minsk 2014 dan 2015 ditandatangani di Moskow setelah intervensi kekuatan Barat.
Konflik di sana berlangsung selama bertahun-tahun dengan pelanggaran gencatan senjata terus-menerus. Sekitar 14.000 orang tewas dalam konflik di Ukraina timur hingga Februari 2022.
Ketegangan mulai meningkat akhir tahun lalu ketika Ukraina, AS dan sekutunya menuduh Rusia mengumpulkan puluhan ribu tentara di perbatasan Ukraina.
Mereka mengklaim Rusia sedang bersiap untuk menyerang tetangga baratnya Ukraina, tuduhan yang secara konsisten ditolak oleh Moskow.
Menantang ancaman sanksi oleh Barat, Moskow secara resmi mengakui Donetsk dan Luhansk sebagai negara merdeka, diikuti dengan dimulainya operasi militer di Ukraina pada Kamis 24 Februari.
Putin mengatakan operasi itu bertujuan untuk melindungi orang-orang yang “menjadi sasaran genosida” oleh Kyiv dan “demiliterisasi dan denazifikasi” Ukraina, sambil menyerukan tentara Ukraina untuk meletakkan senjatanya.