ISTANBUL
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken membahas berbagai masalah melalui telepon pada Selasa, termasuk perkembangan terbaru dalam konflik Rusia-Ukraina.
Cavusoglu juga memberi tahu menlu AS tentang upaya Turki untuk mengurangi ketegangan antara Rusia dan Ukraina melalui dialog, kata sebuah pernyataan oleh Kementerian Luar Negeri Turki.
Terkait perkembangan di utara Suriah, di sepanjang perbatasan selatan Turki, Cavusoglu juga menyoroti kegiatan separatis teroris YPG/PKK dan serangannya terhadap warga sipil setempat.
Dia mengatakan Turki bertekad kuat melanjutkan perjuangan melawan kelompok teroris ini.
Dukungan AS untuk teroris YPG/PKK, yang dikatakan bertujuan memerangi teroris Daesh/ISIS, telah lama menjadi perdebatan antara Washington dan Ankara.
Turki berpendapat bahwa menggunakan satu kelompok teror untuk memerangi yang lain tidak masuk akal.
Dalam lebih dari 35 tahun kampanye terornya melawan Turkiye, PKK – yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turkiye, AS, dan UE – telah bertanggung jawab atas kematian lebih dari 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak, dan bayi. YPG adalah cabang kelompok itu di Suriah.
Kedua menlu itu juga membahas perkembangan terakhir di Kaukasus dan proses pemulihan hubungan yang sedang berlangsung antara Turki dan Armenia.
Cavusoglu juga mengundang Blinken ke Forum Diplomasi Antalya yang akan diadakan di Turkiye selatan pada 11-13 Maret.
Blinken juga mengirimkan ucapan doa kepada Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Ibu Negara Emine Erdogan, yang baru-baru ini dinyatakan positif Covid-19.
Ketegangan antara Ukraina dan Rusia
Moskow dan Kyiv telah terlibat konflik sejak permusuhan di wilayah Donbas timur pecah pada 2014 setelah Rusia mencaplok Semenanjung Krimea.
Rusia telah mengumpulkan ribuan tentara di dekat perbatasan Ukraina, memicu kekhawatiran bahwa mereka mungkin merencanakan serangan militer lain terhadap bekas republik Soviet.
AS dan sekutunya telah memperingatkan serangan yang akan segera terjadi, dan mengancam Rusia dengan “konsekuensi berat.”
Moskow membantah sedang bersiap untuk menyerang Ukraina dan mengatakan pasukannya ada di sana untuk melakukan latihan.
Para pemimpin dunia, termasuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, bekerja untuk menyelesaikan krisis secara damai.
Turki telah menawarkan menjadi tuan rumah pertemuan puncak perdamaian antara para pemimpin Rusia dan Ukraina.