JERUSALEM
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi pemimpin pertama dalam sejarah negaranya yang dituduh melakukan korupsi selama masa jabatannya.
Netanyahu, tidak seperti mantan Perdana Menteri Ehud Olmert, tidak mengundurkan diri ketika berhadapan dengan kasus korupsi formal.
Dia justru memutuskan lebih dulu melawan keputusan jaksa agung dan mencalonkan diri untuk masa jabatan perdana menteri ketiga kalinya.
Sepuluh tahun yang lalu, PM Netanyahu terlibat dalam tuduhan korupsi, di mana dia tidak memiliki mandat publik atau moral untuk membuat keputusan yang menentukan bagi negara Israel.
The Jerusalem Post melaporkan bahwa Netanyahu memberi tahu rekan kerjanya bahwa dia tidak akan mengulangi kesalahan Olmert atau mengizinkan pemilihan pendahuluan di Partai Likud untuk memilih penggantinya.
Menurut analis politik Palestina Anton Shalhat, keputusan Netanyahu untuk tidak mundur didasarkan pada dua faktor utama.
Yang pertama adalah aliansi 10 tahun dengan media dan kapitalis ventura di Israel.
"Netanyahu adalah tokoh karismatik dalam masyarakat Israel dan dia menggunakan kelebihannya ini untuk menjalin aliansi dengan orang-orang berpengaruh yang membantunya tetap dalam posisinya untuk waktu yang lama," kata Shalhat kepada Anadolu Agency.
Dalam 10 tahun terakhir, analis mengatakan, "Netanyahu mampu membangun lingkaran aliansi di media Israel yang akan membelanya dari siapa pun dan apa pun."
Yang kedua, lebih penting dan kemampuan Netanyahu untuk mengubah metafora populer masyarakat Israel.
Menurut Shalhat, di satu sisi, Netanyahu memperkuat aturan hak warga Israel, terutama pemukim, mengamankan ratusan ribu pemilih.
"Netanyahu membuka pasar Israel untuk investasi asing dan selama pemerintahannya, negara menyaksikan pertumbuhan ekonomi," kata dia.
"Tidak seperti Olmert, yang lemah dan tidak memiliki basis populer, Netanyahu mendapat dukungan dari separuh masyarakat Israel dan media serta kaum kapitalis," kata ciz.
"Dia percaya bahwa dia dapat menjaga portofolio perdana menteri bahkan jika dia menentang standar yang telah mengendalikan kehidupan politik di Israel sejak pendiriannya," kata Shalhat.
November lalu, Netanyahu dituduh melakukan suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan dalam tiga kasus korupsi.
Dalam yang pertama dikenal sebagai "Kasus 1000", produser Hollywood Israel Arnon Milchan diduga diminta untuk membeli barang-barang mewah untuk Netanyahu dan istrinya.
Perdana menteri Israel didakwa melanggar kepercayaan publik dan penipuan. Klaim jaksa dari 2007 hingga 2016, Netanyahu menerima hadiah USD283.000 dari Milchan dan pengusaha kaya lainnya.
Dalam "Kasus 2000", Netanyahu diduga meminta liputan positif dari Arnon Mozes, penerbit harian berbahasa Ibrani Yedioth Ahronoth, sebagai imbalan atas bantuan dalam memerintah dalam publikasi saingan. Netanyahu didakwa melanggar kepercayaan publik dan penipuan.
Dan dalam "Kasus 4000", Netanyahu didakwa melakukan penyuapan karena diduga memberikan manfaat pengaturan kepada perusahaan telekomunikasi Israel, Bezeq, dengan imbalan liputan yang menguntungkan tentang dia dan istrinya di situs web berita yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.
Dakwaan berdasarkan pada kecurigaan bahwa orang kepercayaan Netanyahu mempromosikan peraturan yang bernilai ratusan juta dolar bagi perusahaan.
Jalal Rumaneh, pakar lain dalam masalah Israel juga percaya Netanyahu mampu mengendalikan Israel dengan intimidasi, dengan menjaga publik dikelilingi oleh ketakutan akan ancaman internal atau eksternal.
Selama lebih dari satu dekade, Netanyahu, 70, mendominasi media, ekonomi, investasi teknologi tinggi dan platform media sosial Israel dan mampu mengarahkan opini publik.
"Tidak adanya pemimpin lain yang dapat menyatukan partai-partai sayap kanan di Israel membuat sulit untuk mengganti Netanyahu saat ini dengan sekutu sayap kanannya atau orang-orang yang mendukung mereka," kata Rumaneh.
"Fakta ini memberikan apa yang membuat Netanyahu percaya bahwa dia bisa tetap sebagai perdana menteri Israel selama bertahun-tahun yang akan datang," kata dia.
Menurut Rumaneh, terlalu dini untuk mengumumkan akhir era Netanyahu. "Tapi mungkin itu awal dari akhir," tambah dia.
news_share_descriptionsubscription_contact
