Chandni
19 Maret 2018•Update: 19 Maret 2018
Rafiu Ajakaye
LAGOS, Nigeria
Nigeria secara resmi menunda menandatangani kerangka perjanjian untuk membentuk Area Perdagangan Bebas Afrika (ACFTA) menyusul aksi protes oleh serikat-serikat buruh yang mengatakan rencana itu bakal memperburuk ekonomi negara.
Kementerian Luar Negeri Nigeria pada Minggu mengatakan Presiden Muhammadu Buhari batal berangkat ke Rwanda, di mana pemimpin-pemimpin negara Afrika dijadwalkan meresmikan perjanjian itu.
"Presiden Buhari membatalkan kunjungannya ke Kigali, Rwanda untuk menghadiri Pertemuan Luar Biasa Uni Afrika pada 21 Maret untuk menandatangani perjanjian kerangka pembentukan Area Perdagangan Bebas Afrika," bunyi pernyataan yang dirilis Tope Elias-Fatile, juru bicara Kementerian Luar Negeri.
"Penundaan ini memberikannya lebih banyak waktu untuk mendengar masukan dari pemangku kepentingan di Nigeria," tambah dia.
Kabinet federal Nigeria pekan lalu menyetujui kerangka perjanjian yang menurut mereka bisa menggenjot ekspor negara, "memicu pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja serta menghapus rintangan-rintangan yang dihadapi produk dari Nigeria, dan juga menyiapkan mekanisme untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul akibat diskriminasi terhadap bisnis-bisnis yang berasal dari Nigeria".
ACFTA adalah wacana yang dilansir Uni Afrika pada Januari 2012 lalu dengan tujuan mempererat integrasi regional. Nigeria merupakan salah satu pendukung terbesar rencana itu, namun serikat pekerja lokal dan perusahaan-perusahaan menentangnya.
Pekan lalu, Menteri Perdagangan dan Investasi Nigeria Okechukwu Enelamah mengakui adanya perlawanan terhadap rencana itu, namun tetap berupaya berdialog dengan semua pihak yang terlibat.