Maria Elisa Hospita
28 Maret 2019•Update: 28 Maret 2019
Aamir Latif
KARACHI, Pakistan
Pakistan, Afghanistan, dan Amerika Serikat (AS) terlibat cekcok setelah adanya laporan bahwa Perdana Menteri Imran Khan menyarankan pembentukan pemerintahan sementara di Afghanistan.
Pekan lalu, Khan juga mengatakan bahwa Taliban Afghanistan ingin bertemu dengannya tetapi dia membatalkan pertemuan itu karena ditentang Kabul.
Terlepas dari klarifikasi Khan bahwa pernyataannya telah dikutip di luar konteks, Kabul dan Washington terus mengkritik Islamabad yang menurut mereka sama saja ikut campur dalam urusan internal Afghanistan.
Pada Selasa, Afghanistan pun memanggil duta besarnya untuk Pakistan untuk "konsultasi" tentang pernyataan Khan.
Sementara itu, Utusan Khusus AS untuk Perdamaian Afghanistan Zalmay Khalilzad menyebut komentar Khan "tidak pantas".
Cekcok itu terjadi beberapa hari jelang kunjungan Khalizad ke wilayah tersebut sehubungan dengan upaya peningkatan Washington untuk menemukan solusi dari konflik di Afghanistan yang telah berlangsung selama 18 tahun.
Lewat cuitan, Duta Besar AS untuk Afghanistan John Bass meminta PM Khan, yang juga adalah mantan atlet kriket, untuk tidak "merusak bola" dalam proses perdamaian Afghanistan dan ikut campur dalam urusan internal negara itu.
Dalam pertandingan kriket, perusakan bola - mengubah bentuk bola dengan paku atau benda lainnya - adalah tindakan yang dapat dikenai sanksi.
Menteri Keuangan Pakistan Asad Umar membalas cuitan Bass dengan mengatakan bahwa Bass tidak paham soal kriket, yang merupakan olahraga populer di Asia Selatan.
"Cuitan Anda menunjukkan bahwa Anda tidak memahami kriket atau diplomasi. Saya berharap AS dapat menunjukkan keterampilan diplomatik yang lebih baik untuk mencapai proses perdamaian Afghanistan yang saat ini berada di titik kritis," tegas Umar.
Taliban dan AS akan memulai perundingan di Doha, Qatar, bulan depan.
Pemerintah Afghanistan semakin merasa dikucilkan dalam negosiasi ini, karena Taliban enggan berunding dengan pemerintah Afghanistan.