Muhammad Abdullah Azzam
24 Juni 2020•Update: 24 Juni 2020
Mustafa Dalaa, Aydogan Kalabalik
ISTANBUL
Pangkalan udara Al-Jufra, yang direbut oleh milisi panglima perang Khalifa Haftar pada 2017, masih menampung pesawat Rusia dan tentara bayaran Wagner.
Menurut data dari komando AS di Afrika, AFRICOM, masih ada 14 jet tempur MiG-29, serta pesawat pengebom Sukhoi-24 buatan Rusia di pangkalan udara tersebut.
Sistem pertahanan udara Pantsir buatan Rusia juga masih berada di pangkalan itu.
Selain tentara bayaran Wagner, para pejuang Ukraina dan Serbia juga ditempatkan di pangkalan tersebut.
Haftar juga membawa tentara bayaran asing yang direkrut dari negara-negara Afrika seperti Sudan dan Chad ke pangkalan udara itu untuk pelatihan singkat sebelum mengirim mereka untuk berperang melawan tentara Libya di bagian barat negara itu.
Rusia dipercayai memiliki niat untuk mendirikan pangkalan militer di al-Jufra, pangkalan angkatan laut di Sirte, dan mengambil alih Bandara Internasional Ghardabiya.
Pemerintahan Putin juga diketahui berupaya melakukan hal yang sama di Libya seperti yang dilakukan di Suriah dengan mendirikan pangkalan angkatan laut di Tartus dan pangkalan udara di Latakia.
Menurut komandan AFRICOM Jenderal Bradford J. Gering, Moskow berupaya mengelilingi negara-negara Eropa dengan mengerahkan roket jarak jauh ke barat Rusia dan membangun pangkalan militer di timur dan selatan Mediterania.
- Mengendalikan pelabuhan minyak
Pangkalan udara Al-Jufra adalah kunci untuk mengendalikan pelabuhan minyak Libya.
Brigade Pertahanan Benghazi yang berafiliasi dengan pemerintahan Tripoli ditempatkan di Al-Jufra.
Pada Maret 2017, mereka menguasai pelabuhan minyak Sidra dan Ras Lanuf.
Namun, milisi Haftar, yang mempertahankan keunggulan di udara, segera mengambil kembali pelabuhan-pelabuhan penting ini dari pasukan pemerintah Libya. Setelah itu, mereka juga menduduki pangkalan udara Al-Jufra.
Al-Jufra juga penting dalam hal mengendalikan rute pasokan ke pangkalan udara Tamanhent dan Brak al-Shati.
Para ahli militer setuju bahwa Sirte harus dibebaskan dari milisi Haftar untuk mempertahankan kendali al-Jufra.
Pelabuhan minyak yang menguntungkan, terminal energi Al-Sidra dan Ras Lanuf memiliki kapasitas produksi hingga sekitar 600.000 barel minyak per hari.
Pemerintah Libya ingin kembali ke dasar perjanjian Skhirat yang dibuat pada 17 Desember 2015, yang mengharuskan milisi Haftar menarik diri dari Sirte, al-Jufra dan Fezzan.
Pangkalan udara Al-Jufra yang dibebaskan akan memungkinkan pemerintah Libya mengendalikan seluruh negara. Lihat infografik posisi strategis Al-Jufra yang dibuat oleh Anadolu Agency.