Nilay Kar
12 Januari 2020•Update: 13 Januari 2020
Nilay Kar
TRIPOLI, Libya
Pasukan yang setia kepada Jenderal Libya, Khalifa Haftar, pada Sabtu menerima seruan bersama Turki dan Rusia untuk melakukan gencatan senjata.
Juru bicara Tentara Nasional Libya (LNA) Haftar, Ahmed al-Mismari mengatakan dalam sebuah pesan video, pasukan menerima seruan untuk gencatan senjata, tetapi akan menanggapi dengan keras jika dilanggar.
Langkah itu terjadi beberapa menit setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan mitranya dari Rusia, Vladimir Putin, mengadakan pembicaraan telepon mengenai Libya.
Erdogan dan Putin mendesak gencatan senjata pada 12 Januari, menyusul pertemuan kedua pemimpin itu sebelumnya di Istanbul.
Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB di Tripoli menyambut seruan gencatan senjata itu, tetapi Haftar menolak saran tersebut saat itu.
Pada 4 April, Haftar meluncurkan serangan untuk merebut Tripoli dari GNA. Menurut PBB, lebih dari 1.000 orang telah tewas sejak awal operasi dan lebih dari 5.000 terluka.
Sejak penggulingan almarhum pemimpin Muammar Gaddafi pada 2011, dua kursi kekuasaan telah muncul di Libya: satu di Libya timur didukung terutama oleh Mesir dan Uni Emirat Arab dan yang lainnya di Tripoli, yang menikmati pengakuan PBB dan internasional.