Maria Elisa Hospita
17 September 2019•Update: 18 September 2019
SM Najmus Sakib
DHAKA, Bangladesh
Ahli hak asasi manusia PBB mendesak Bangladesh untuk menginvestigasi kematian di kamp pengungsi Rohingya di distrik Cox's Bazar.
Dalam sebuah pernyataan, para ahli menyatakan kekhawatiran mereka terhadap sejumlah pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah dan meningkatnya keberadaan militer di kamp-kamp pengungsi baru-baru ini.
"Kami meminta pemerintah Bangladesh untuk melaksanakan investigasi yang independen, tidak memihak, dan efektif terhadap semua kematian yang terjadi sehubungan dengan kasus ini," kata pernyataan itu.
Bulan lalu, sekitar 200.000 pengungsi berkumpul untuk "Hari Genosida", yang memperingati tahun kedua eksodus mereka dari Myanmar.
Selama aksi tersebut, mereka mendesak hak kewarganegaraan dan jaminan lainnya sebelum mereka direpatriasi ke Myanmar.
Aksi pada 25 Agustus di Cox's Bazar itu berujung ricuh, hingga beberapa penggerak aksi menjadi sasaran intimidasi.
Jam malam pun kini diberlakukan di kamp. Tak hanya itu, para pengungsi juga dilarang menggunakan telepon genggam.
“Kami terkejut dengan aksi kekerasan yang dilakukan ke para pengungsi selama mereka menyuarakan aspirasi mereka. Kami sangat prihatin dengan adanya pembatasan diskriminatif terhadap kelompok minoritas Rohingya, yang merupakan pengungsi di Bangladesh," tambah para ahli.
Polisi Bangladesh diduga membunuh empat pria Rohingya dan menangkap setidaknya satu orang lainnya.
- Orang-orang yang paling teraniaya
Rohingya, yang disebut-sebut PBB sebagai kaum paling teraniaya, menderita sejumlah serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012.
Amnestry International mengungkapkan bahwa lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh, sejak pasukan keamanan Myanmar melancarkan serangan ke komunitas Muslim minoritas pada 2017.
Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sekitar 24.000 Muslim Rohingya dibunuh oleh pasukan Myanmar sejak 25 Agustus 2017.
Dalam laporannya yang berjudul "Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira", OIDA menyebutkan lebih dari 34.000 Rohingya dibakar hidup-hidup, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli.
Tak hanya itu, sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh militer dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar habis dan 113.000 lainnya dirusak.