Rhany Chairunissa Rufinaldo
26 Februari 2020•Update: 26 Februari 2020
James Reinl
PBB
Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang memperluas sanksi terhadap Yaman pada Selasa, meskipun ditentang oleh Rusia dan China atas referensi terhadap militan pemberontak Houthi yang bersekutu dengan Iran.
Kerajaan Inggris, yang menyusun dokumen tersebut, Amerika Serikat dan Prancis termasuk di antara 13 anggota yang memberikan suara mendukung di dewan beranggotakan 15 negara itu, sementara Moskow dan Beijing memilih abstain.
Anggota dewan tidak setuju dengan bagaimana resolusi mengatasi rincian tentang pemberontak Houthi yang menerima suku cadang drone yang memiliki kesamaan dengan senjata yang diproduksi di Iran.
"Houthi tidak hanya menyulap kemampuan untuk meluncurkan senjata canggih ratusan kilometer ke Arab Saudi dan negara-negara tetangga lainnya," kata Utusan AS Rodney Hunter kepada para delegasi setelah pemungutan suara.
Richard Gowan, seorang pakar PBB yang bekerja dengan Kelompok Krisis Internasional, mengatakan ketidaksepakatan tentang Yaman menunjukkan bahwa Dewan Keamanan menjadi semakin terkatung-katung ketika menangani ancaman di Timur Tengah.
Yaman telah mengalami kekacauan poltik dan pertumpahan darah selama bertahun-tahun sejak gerakan pemberontak Houthi yang beraliansi dengan Iran menggulingkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi dari Sanaa menjelang akhir 2014.
Kondisi ini mendorong intervensi militer pada 2015 oleh koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi dan UEA, yang berupaya memulihkan pemerintah Hadi yang diakui PBB.
Pertempuran telah menyebabkan 24,1 juta orang - atau 80 persen dari populasi negara itu - membutuhkan bantuan darurat.