Maria Elisa Hospita
03 Agustus 2018•Update: 04 Agustus 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Utusan Khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths berencana mengundang pihak-pihak yang berseteru di Yaman ke Jenewa untuk mengikuti perundingan damai pada 6 September.
Griffiths mengatakan di hadapan Dewan Keamanan PBB pada Kamis bahwa sudah waktunya untuk melanjutkan proses politik di Yaman untuk menyelesaikan krisis karena perundingan damai sebelumnya telah gagal.
Dia mengatakan perundingan September "akan memberikan kesempatan bagi semua pihak untuk membahas kerangka kerja negosiasi, langkah-langkah membangun kepercayaan yang sesuai, dan rencana khusus untuk menggerakkan proses perundingan ke depan".
Menurut Griffiths, konflik telah meningkat - khususnya di kota Al Hudaydah - meskipun berbagai upaya untuk mengakhirinya telah dilakukan.
Utusan khusus PBB tersebut baru-baru ini mengunjungi Yaman untuk berunding dengan pemberontak Houthi demi mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat tahun.
"Kami telah mencari cara untuk menghindari pertempuran di Al Hudaydah, dan kami masih terus berusaha," kata dia kepada dewan.
Griffiths juga meminta semua pihak untuk menghindari tindakan apapun yang dapat memperburuk bencana kemanusiaan di negara itu dan merusak solusi politik. Dia mendesak mereka untuk menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi proses politik.
Menurut John Ging, direktur Divisi Operasional di Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, 75 persen populasi Yaman atau sekitar 22 juta orang, membutuhkan bantuan dan perlindungan kemanusiaan.
Yaman yang miskin masih didera kekerasan sejak tahun 2014, ketika pemberontak Syiah Houthi menguasai sebagian besar wilayah negara, termasuk ibu kota, Sanaa, dan kota pelabuhan Al Hudaydah.
Konflik meningkat pada tahun 2015 ketika Arab Saudi dan sekutu Sunni-Arabnya melancarkan kampanye udara besar-besaran di Yaman untuk mengalahkan Houthi.
Kekerasan telah menghancurkan infrastruktur Yaman, termasuk sistem kesehatan dan sanitasi, mendorong PBB menggambarkan situasi di sana sebagai "salah satu bencana kemanusiaan terburuk di zaman modern".