Maria Elisa Hospita
20 September 2018•Update: 21 September 2018
Mohamed al-Samei
SANAA, Yaman
Sejak Juni, lebih dari 76.000 keluarga telah melarikan diri dari provinsi Al-Hudaydah, Yaman, akibat pertempuran antara kelompok Houthi dan koalisi militer pimpinan Arab Saudi.
Menurut sebuah laporan yang dirilis oleh Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada Rabu, sebanyak 76.512 keluarga mengungsi ke berbagai provinsi yang lebih aman dari Al-Hudaydah.
Sejak awal September, pertempuran di Al-Hudaydah - khususnya di area Kilometer 16, bandara, dan sepanjang pantai Laut Merah - terus meningkat.
Sementara itu, Pelabuhan Salif dan Al-Hudaydah, masih tetap beroperasi, karena keduanya merupakan jalur masuk pengiriman pasokan makanan dan bantuan kemanusiaan ke Sanaa dan wilayah utara Yaman.
Yaman yang miskin telah didera kekerasan sejak 2014, ketika pemberontak Syiah Houthi menguasai sebagian besar wilayah negara, termasuk ibu kota, Sanaa, dan Pelabuhan Al-Hudaydah.
Konflik meningkat pada 2015 ketika Arab Saudi dan sekutu Sunni-Arabnya meluncurkan kampanye udara besar-besaran di Yaman untuk mengalahkan Houthi dan membantu pemerintah Yaman yang pro-Saudi.
Kekerasan itu telah menghancurkan infrastruktur Yaman, termasuk fasilitas kesehatan dan sanitasi, sehingga PBB menggambarkan situasi di sana sebagai "salah satu bencana kemanusiaan terburuk di zaman modern".