Muhammad Abdullah Azzam
18 Maret 2019•Update: 19 Maret 2019
Recep Şakar, Zuhal Demirci
CHRISTCHURCH
Seorang warga Turki yang terluka dalam serangan teroris di Christchurch, Selandia Baru, Mustafa Boztas mengungkapkan bahwa setelah sebuah peluru menancap ke kakinya, dia berusaha melarikan diri dengan memecahkan kaca menggunakan tangannya.
Saat diwawancarai oleh mitra harian Turkish News Press yang berpusat di Australia, warga Turki yang dirawat di Rumah Sakit Christchurch itu mengungkapkan bahwa jika dia terlambat beberapa detik saja, maka mungkin dia sudah terbunuh.
Boztas menceritakan bahwa serangan tersebut terjadi saat salat Jum'at tengah berlangsung.
Dia mengatakan bahwa pada saat itu dia sedang mendengarkan imam berkhotbah namun beberapa suara tembakan terdengar tiba-tiba, pada awalnya dia mengira pada saat itu tengah terjadi gempa.
Setelah menyadari itu adalah serangan teroris, Boztas mulai kocar-kacir melarikan diri bersama orang-orang yang ada di masjid.
Awalnya dia bersama beberapa jamaah lainnya terjebak tak dapat memecahkan jendela di dekat pojok masjid.
“Teroris mulai menembaki kita semua. Sebuah peluru menancap ke kaki saya. Kemudian (pelaku) pergi sejenak. Saya tidak tahu apakah pelurunya habis, suara tembakan tiba-tiba berhenti,” ungkap Boztas.
Boztas mengungkapkan dirinya tak melihat siapa-siapa saat melongok ke arah luar jendela.
“Saya memecahkan jendela dengan tangan saya dan saya segera melarikan diri. Jika saya terlambat dua atau tiga detik saja, saya sudah mati,” lanjut Boztas.
Boztas berkata, “Seperti di dalam video teroris itu. Dia merekam saya saat saya sedang melarikan diri."
Setelah memecahkan jendela dan keluar dari masjid, Boztas melihat seorang anak tergeletak di jalan dalam kondisi matanya terbuka.
“Saya mencoba untuk menyelamatkannya, namun dia sudah meninggal. Saya menutup matanya. Lalu saya kembali berlari setelah terdengar banyak suara tembakan lagi," ungkap dia.