Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
02 Januari 2020•Update: 02 Januari 2020
Aamir Latif
KARACHI, Pakistan
Pakistan pada Rabu menegaskan kembali dukungan teguh dan solidaritasnya untuk warga Kashmir dan menuduh India memperpanjang pembatasan di Kashmir hingga mencapai 150 hari.
"Sebagai bagian dari dukungan moral, politik dan diplomatik kami yang tak terhalang untuk tujuan Kashmir, Pakistan akan terus mengangkat di semua forum internasional soal kondisi buruk delapan juta warga Kashmir tak berdosa di bawah pendudukan brutal 900.000 personel keamanan India yang menganiaya mereka siang dan malam dengan impunitas," kata Kementerian Luar Negeri Pakistan dalam sebuah pernyataan.
Islamabad menyerukan komunitas dunia mengambil langkah-langkah mendesak dan efektif untuk mengatasi situasi hak asasi manusia di wilayah tersebut.
"India harus segera mencabut penguncian dan pembatasan komunikasi yang diberlakukan di Kashmir yang diduduki sejak 5 Agustus, membebaskan semua tahanan terutama anak-anak muda, melepaskan kepemimpinan senior Kashmir, menghapus semua hukum kejam, menarik 900.000 personel keamanannya dari wilayah yang diduduki dan memungkinkan akses tanpa hambatan ke pengamat kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional dan media internasional ke wilayah pendudukan,” tambah pernyataan itu.
Hubungan antara kedua negara saingan nuklir di Asia Selatan semakin memanas setelah India meminta ketentuan khusus negara bagian Jammu dan Kashmir.
Wilayah itu telah terkunci sejak 5 Agustus.
Sejumlah kelompok hak asasi manusia termasuk Human Rights Watch dan Amnesty International telah berulang kali meminta India untuk mencabut pembatasan dan membebaskan tahanan politik.
Namun pihak berwenang India mengklaim bahwa pembatasan siang hari telah dicabut di wilayah tersebut.
Jammu dan Kashmir dikuasai oleh India dan Pakistan sebagian dan diklaim oleh keduanya secara penuh.
Sejak berpisah pada 1947, India dan Pakistan telah berperang sebanyak tiga kali - pada 1948, 1965 dan 1971 - dua di antaranya memperebutkan Kashmir.