04 Agustus 2017•Update: 05 Agustus 2017
Burak Karacaoglu dan Gulsen Topcu
IDLIB, Syria
Sejumlah bus mengangkut sekitar 7.000 warga Suriah mulai menyebrang ke utara Suriah pada Kamis menyusul kesepakatan gencatan senjata antara gerakan Hezbollah Lebanon dan kelompok Jabhat Fateh al-Sham.
Konvoi 117 bus itu tiba di propinsi Idlib setelah meninggalkan wilayah konflik Juroud Arsal di Lebanon.
Gencatan senjata yang mulai efektif pada akhir bulan lalu juga menyerukan agar militan anggota kelompok Jabhat Fateh al-Sham, yang dulunya bernama Nusra Front, keluar dari wilayah itu untuk ditukar dengan membebaskan 3 anggota Hezbollah yang ditangkap di Suriah tahun lalu.
Grup itu, termasuk anggota Jabhat Fateh al-Sham dan juga pengungsi, direncanakan untuk ditempatkan di pondok tamu dan kamp pengungsi.
Yayasan kemanusiaan Turki, The Humanitarian Relief Foundation (IHH), menyediakan bantuan berupa makanan dan tenda-tenda bagi mereka, kata koordinator IHH Mehmet Suayip Altun kepada Anadolu Agency.
“Lebanon dalam ambang perubahan besar dan mungkin menjadi korban embargo oleh negara-negara Arab dan Barat karena adanya Hezbollah,” kata Nohad Machnouk, Menteri Dalam Negeri Lebanon.
Didukung pesawat temput Suriah, pasukan Hezbollah pada pertengahan Juli mulai bertarung melawan sejumlah kelompok Suriah, termasuk Jabhat Fateh, di sekitar wilayah Juroud Arsal.
Selama konflik itu, beberapa organisasi hak asasi manusia menyuarakan keprihatinan terhadap sekitar 100.000 pengungsi Suriah yang tinggal di area itu.
Suriah mengalami perang saudara sejak awal 2011, ketika rezim Assad mulai menindak demonstran pro-demokrasi.
Sejak itu, ratusan ribu warga sipil Suriah tewas, menurut PBB. Namun rezim Suriah mengatakan jumlah korban tewas dalam konflik itu jauh lebih rendah.