Muhammad Abdullah Azzam
05 Juni 2020•Update: 08 Juni 2020
Gulsen Topcu
TRIPOLI, Libya
Perdana Menteri Libya Fayez al-Sarraj menyerukan kepada para pemuda di barisan pasukan Jenderal Khalifa Haftar untuk melucuti senjata mereka.
Berbicara kepada saluran Libya Februari TV, al-Sarraj mengimbau para pemimpin suku dan tokoh masyarakat untuk menciptakan suasana yang mendominasikan kebebasan berekspresi, dialog dan prinsip-prinsip bernegara.
Dia meminta para pemuda yang ditipu oleh Haftar, yang dia sebut sebagai "penjahat perang", untuk menyerah kepada pemerintah yang sah.
Al-Sarraj juga memuji perebutan kembali Bandara Internasional Tripoli.
Dia mengatakan milisi Haftar telah dikalahkan oleh tentara Libya dan harus mundur, dia juga menyoroti milisi itu telah melakukan kejahatan lain dengan menanam ranjau darat di perumahan sipil.
Tentara Libya mengumumkan bahwa warga sipil di ibu kota Tripoli sebagian besar telah diselamatkan dari milisi yang berafiliasi dengan Haftar, pemimpin pasukan tidak sah di timur negara itu.
Mustafa al-Majai, juru bicara Operasi Burkan Al-Ghadab (Gunung Berapi Kemarahan) pro-pemerintah, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa mereka mengharapkan bagian selatan Tripoli akan sepenuhnya dibebaskan dalam beberapa jam mendatang.
Sebelumnya tentara Libya telah membebaskan Bandara Internasional Tripoli dari milisi pro-Haftar.
Pasukan pemerintah sepenuhnya mengambil alih bandara, yang telah berada di bawah kendali Haftar selama setahun.
Pemerintah Libya yang diakui secara internasional diserang oleh pasukan Haftar sejak April 2019.
Maret ini pemerintah Libya meluncurkan Operasi Badai Perdamaian untuk melawan serangan terhadap ibu kota, dan baru-baru ini membebaskan tempat-tempat strategis termasuk pangkalan udara Al-Watiya dalam operasi besar terhadap pasukan Haftar.
Pada Selasa, Misi Dukungan PBB di Libya (UNSMIL) mengatakan Haftar telah menyetujui dimulainya kembali perundingan gencatan senjata.
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat pengakuan PBB dan internasional.