Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
07 Januari 2020•Update: 07 Januari 2020
Gulsen Topcu
ALJIR
Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune pada Senin mengatakan bahwa ibu kota Libya, Tripoli, adalah garis merah.
"Aljazair menganggap Tripoli sebagai garis merah dan tidak mengharapkan siapa pun untuk melewatinya," kata Tebboune setelah pertemuan dengan Fayez al-Sarraj, kepala Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya yang diakui PBB.
Kantor berita APS Aljazair melaporkan bahwa selama pertemuan dengan al-Sarraj dan delegasinya yang tiba di Aljazair dalam kunjungan resmi untuk pembicaraan tentang krisis Libya Tebboune meminta masyarakat internasional dan khususnya Dewan Keamanan PBB untuk memenuhi tanggung jawab mereka untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di Libya.
Tebboune mengatakan bahwa sejak awal krisis Libya, Aljazair telah mengadopsi prinsip "menemukan solusi politik untuk melindungi persatuan rakyat Libya dan integritas wilayah negara tanpa intervensi asing."
Dia juga mengutuk serangan udara terhadap sebuah sekolah militer di Tripoli yang dilakukan oleh pasukan pimpinan Komandan Militer Khalifa Haftar pada Sabtu.
"Serangan terhadap sekolah militer di Tripoli, yang menyebabkan kematian 30 siswa, dianggap sebagai kejahatan perang," ujar Tebboune.
Setidaknya 30 orang tewas dan 33 lainnya terluka dalam serangan udara di asrama sekolah yang menargetkan para siswa.
Tebboune mendesak pihak-pihak yang bertikai di negara itu untuk mengakhiri ketegangan dan meminta pasukan asing untuk berhenti menawarkan dukungan militer kepada mereka.
Dia juga menyerukan dimulainya kembali proses dialog untuk menemukan solusi politik untuk krisis.
Sementara itu, Kepala GNA Libya al-Sarraj berterima kasih kepada Tebboune atas pendekatan konstruktifnya terhadap perkembangan di Libya.
Sebelumnya, GNA mengumumkan bahwa serangan terhadap sekolah militer dilakukan oleh pesawat tak berawak Wing Loong II buatan China milik Uni Emirat Arab.
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat pengakuan PBB dan internasional.