MOSKOW
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Belarus Alexander Lukashenko membahas situasi para pencari suaka di perbatasan Belarusia-Polandia, kata Kremlin pada Selasa.
Dalam percakapan via telepon, Putin dan Lukashenko membicarakan krisis migrasi di perbatasan Belarus dengan negara-negara Uni Eropa, dan percakapan telepon Lukashenko dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, kata Kremlin dalam sebuah pernyataan.
Dalam pernyataan terpisah, layanan pers presiden Belarus mengatakan Putin dan Lukashenko membahas "tindakan bersama untuk mempertahankan perbatasan Negara Kesatuan."
Situasi di Ukraina dan latihan militer tak terjadwal oleh Ukraina dan Amerika Serikat (AS) di dekat perbatasan Federasi Rusia dan di Laut Hitam juga menjadi bahan diskusi kedua pemimpin.
Pada Senin, Lukashenko dan Merkel membahas cara dan prospek penyelesaian krisis migrasi dan dukungan kemanusiaan untuk pengungsi.
Rusia kecam perilaku Polandia terhadap migran
Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengecam "perilaku yang tidak dapat diterima" Polandia terhadap para migran, mengklaim pasukan penegak hukum negara itu menggunakan gas air mata, meriam air, dan tembakan peringatan terhadap para migran.
Otoritas Polandia menyembunyikan tindakan mereka dari media dan agen migrasi di Uni Eropa, tidak mengizinkan mereka ke zona krisis, kata Lavrov dalam konferensi pers.
“Uni Eropa memiliki Badan Penjaga Perbatasan dan Pantai, Europol, dan Biro Dukungan Suaka. Ini adalah mekanisme resmi UE yang dibuat untuk menghadapi situasi seperti itu,” ujar dia.
Menurut Lavrov, badan-badan Uni Eropa sangat ingin mengunjungi perbatasan dari sisi Polandia, tetapi mereka tidak diizinkan mengirim ahli mereka ke sana sehingga mereka tidak membentuk gambaran objektif dan mengembangkan rekomendasi untuk Brussel.
Pada Oktober, Belarus menangguhkan perjanjian migrasi dengan UE.
Uni Eropa menuduh pemerintah Belarus "menggunakan migrasi ilegal sebagai alat" dan "mencoba mengacaukan Uni Eropa" dengan mengirim migran ke perbatasan negara-negara Uni Eropa Polandia, Lithuania, dan Latvia.
Lukashenko membantah tuduhan tersebut, dengan mengatakan para migran menggunakan Belarus untuk memasuki Uni Eropa karena memiliki rezim bebas visa dengan negara-negara yang "dihancurkan oleh militer Barat."
Menurut angka Uni Eropa terbaru, 7.935 orang mencoba memasuki blok itu melalui perbatasan Belarusia-UE pada 2021, naik tajam dari hanya 150 tahun lalu.
Otoritas Polandia meningkatkan perlindungan perbatasan pekan lalu dan memobilisasi lebih dari 12.000 tentara setelah sekelompok besar migran mulai bergerak menuju perbatasan negara itu dari Belarusia yang dikawal oleh militer Belarus.