Maria Elisa Hospita
13 Agustus 2018•Update: 13 Agustus 2018
Diyar Guldogan
ANKARA
Presiden Venezuela Nicolas Maduro sepakat bekerja sama dengan Amerika Serikat (AS) untuk menyelidiki upaya pembunuhan pekan lalu.
Laporan BBC menyebutkan Maduro meyakini bahwa orang-orang yang terlibat dalam insiden itu telah melarikan diri ke Florida, Peru, dan Kolombia.
"Jika pemerintah AS menawarkan kerja sama FBI untuk menyelidiki, saya akan menyetujuinya," kata Maduro seperti dilansir oleh BBC.
Sebuah drone meledak ketika Maduro akan berpidato di Caracas. Presiden Venezuela menyebutnya sebagai "percobaan pembunuhan".
Maduro pun menyalahkan faksi sayap kanan atas serangan itu, dan menyebut para pelakunya memiliki hubungan dengan Kolombia dan AS.
Menurut BBC, Maduro meyakini bahwa ada "sel-sel teroris" di Florida yang mendalangi upaya pembunuhan tersebut, dan perlu segera diberangus.
Maduro juga meminta pemerintah Peru untuk mengekstradisi para tersangka yang tinggal di sana.
Presiden Maduro menjabat sejak tahun 2013, menggantikan pendahulunya, mendiang Hugo Chavez.
Pada 20 Mei, dia kembali terpilih sebagai presiden, dan akan memimpin pemerintahan selama enam tahun ke depan, terhitung dari Januari 2019 hingga 2025.