JENEWA
Putaran baru pertemuan yang melibatkan Komite Konstitusi Suriah untuk mencari solusi atas perang yang sedang berlangsung di Suriah dimulai di Jenewa pada Senin.
Anggota "Kelompok Kecil" yang bertanggung jawab untuk menulis konstitusi, yang terdiri dari 15 perwakilan dari rezim Bashar Assad, organisasi non-pemerintah, dan oposisi Suriah, bertemu untuk pembicaraan putaran kedelapan di sebuah hotel Jenewa di bawah naungan Utusan Khusus PBB untuk Suriah Geir Pedersen.
Putaran terakhir pembicaraan untuk solusi perang di Suriah berakhir di Jenewa pada 25 Maret, dengan tidak ada pihak yang menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka akan melanjutkan ke tingkat negosiasi yang lain.
Pada Jumat, Jenifer Fenton, juru bicara untuk Pedersen, mengatakan kepada wartawan bahwa Pedersen berada di Damaskus minggu lalu.
Dia bertemu dengan menteri luar negeri rezim, pejabat lain, dan wakil kepala komite konstitusi mereka.
"Utusan khusus itu kemudian melakukan perjalanan ke Turki, di mana dia bertemu dengan anggota oposisi Suriah. Tuan Pedersen dijadwalkan untuk memberikan pengarahan kepada Dewan Keamanan (PBB) dalam pertemuan tertutup minggu depan," kata Fenton.
Ada sedikit terobosan selama pertemuan putaran keenam di Jenewa pada 18-22 Oktober, ketika wakil ketua delegasi rezim Assad Ahmed Kuzbari duduk di meja yang sama untuk pertama kalinya dengan ketua bersama oposisi Hadi al-Bahra.
'Kekecewaan besar'
Pada Oktober tahun lalu, Pedersen pernah mengatakan bahwa ada "kekecewaan besar" setelah kegagalan putaran keenam dan mengkritik rezim Assad dengan menyebut kalimat itu untuk pertama kalinya.
Setelah putaran ketujuh pembicaraan pada bulan Maret, pihak rezim tidak berkomentar saat meninggalkan pertemuan tentang penyusunan konstitusi baru untuk Suriah.
Sumber-sumber oposisi mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa "tidak ada kesepakatan yang dicapai" pada rancangan revisi pasal-pasal konstitusi.
Didirikan pada 2019 dengan dukungan PBB, Komite Konstitusi Suriah terdiri dari dua struktur - besar dan kecil.
Struktur besar mencakup semua anggota komite, dan ada tiga kelompok: rezim, delegasi oposisi, dan perwakilan masyarakat sipil.
Struktur yang terdiri dari 150 orang itu harus menyetujui draft yang disiapkan oleh dewan redaksi 45-orang, dan setidaknya 75 persen dari anggota harus mendukung keputusan untuk diadopsi.
Perang saudara Suriah dimulai ketika rezim Bashar al-Assad menindak pengunjuk rasa pro-demokrasi.
Menurut perkiraan PBB, ratusan ribu orang telah terbunuh dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal.