Maria Elisa Hospita
01 Oktober 2020•Update: 02 Oktober 2020
Dmitri Chirciu
MOSKOW
Presiden Rusia Vladimir Putin berdiskusi dengan rekan sejawatnya dari Prancis, Emmanuel Macron, tentang situasi di wilayah Upper Karabakh yang diduduki,
"Lewat telepon, Putin dan Macron menyatakan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan di kawasan itu," kata Kremlin dalam sebuah pernyataan tertulis.
Keduanya juga meminta pihak-pihak yang bertikai untuk memberlakukan gencatan senjata segera untuk mengurangi ketegangan.
Mereka menekankan bahwa konflik harus diselesaikan secara diplomatik.
Uni Eropa, Rusia, dan NATO, telah menyerukan penghentian bentrokan di sepanjang perbatasan sesegera mungkin.
Bentrokan di perbatasan meletus pada Minggu pagi, setelah pasukan Armenia menargetkan permukiman sipil Azerbaijan dan posisi militer, yang menyebabkan korban jiwa.
Parlemen Azerbaijan kemudian mengumumkan keadaan perang di beberapa kota dan wilayahnya menyusul pelanggaran perbatasan Armenia dan serangan di wilayah Nagorno-Karabakh yang diduduki.
Hubungan antara kedua negara bekas Soviet itu tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Upper Karabakh, atau Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.
Empat resolusi dari Dewan Keamanan PBB dan dua resolusi dari Majelis Umum PBB, serta sejumlah organisasi internasional, menuntut penarikan pasukan pendudukan dari wilayah itu.
OSCE Minsk Group, yang diketuai oleh Prancis, Rusia dan AS, dibentuk pada 1992 untuk menemukan solusi damai bagi konflik tersebut, tetapi hingga saat ini upaya tersebut tak kunjung berhasil. Gencatan senjata, bagaimanapun, disepakati pada 1994.
*Ditulis oleh Seda Sevencan