Muhammad Abdullah Azzam
30 Desember 2020•Update: 30 Desember 2020
Ibrahim Mukhtar
ANKARA
Duta Besar Qatar untuk Turki Salem bin Mubarak Al Shafi pada Selasa mengatakan bahwa hubungan antara Qatar dan Turki adalah hubungan yang "luar biasa, permanen, dan langgeng”.
Dubes Al Shafi mengapresisasi hubungan negaranya dengan Turki sebagai "contoh yang harus ditiru" karena bedasarkan pada fondasi yang kokoh.
Dalam wawancara dengan harian Turki Hurriyet, duta besar itu juga memuji dukungan tanpa henti Turki kepada Qatar, yang menurutnya sudah berlangsung sejak era Kekaisaran Ottoman.
"Hubungan ini bukan baru-baru ini, melainkan kembali ke era Kekaisaran Ottoman, dan sejarah mencatat fakta pada 1916 yang menunjukkan solidaritas antara penguasa Negara Qatar Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani dan Ottoman pada saat itu," tutur Al Shafi.
Dia menambahkan bahwa hubungan antara kedua negara tetap teguh karena didasarkan pada “kebenaran, kesetiaan dan nilai-nilai bersama”.
Al Shafi menyoroti dukungan Turki untuk Qatar selama blokade 2017 serta sikap negaranya melawan kudeta yang dikalahkan pada 2016 di Turki sebagai bentuk kuat dari aliansi kedua negara.
Mengenai lingkup kerja sama bilateral, Al Shafi mengatakan bahwa hubungan mereka melampaui "aspek strategis, politik, ekonomi, dan pertahanan" untuk memasukkan hubungan persaudaraan dan suportif antar masyarakat juga.
Al Shafi mengungkapkan optimisme dalam memperluas investasi Qatar di Turki di sektor-sektor seperti "real estate dan konstruksi, pariwisata & tekstil, makanan & pertanian, peternakan, dan industri lainnya" menggambarkan bahwa Turki “aman” dengan "semua persyaratan" untuk menarik investasi.
Menanggapi terkait tuduhan soal investasi Qatar di Turki, Al Shafi mengatakan Qatar bukan satu-satunya investor di Turki dan rumor semacam itu "tidak cocok untuk negara besar dan hebat seperti Turki".
Dia menambahkan bahwa investasi Qatar di Bursa Istanbul dan di BMC - usaha patungan Turki-Qatar yang memproduksi kendaraan lapis baja - tidak boleh dipolitisasi dan harus dilihat dalam konteks bisnis, mencatat bahwa negaranya juga memiliki saham sekitar 11 persen dari Bursa Efek London.
Saat menanggapi tuduhan partai oposisi di Turki yang mengklaim kurangnya transparansi dalam kesepakatan bisnis bilateral, Al Shafi menekankan bahwa investasi di Turki sejalan dengan "prosedur hukum" dan didasarkan pada "komitmen moral" untuk mendukung ekonomi Turki ketika negara-negara lainnya menarik investasi mereka dari Turki atas dasar politik.
Al Shafi menekankan hubungan persahabatan historis antara kedua negara, menegaskan kembali dukungan negaranya untuk Turki dalam "posisi yang adil dan benar" terlepas dari semua tekanan.