Serdar Bitmez, Ayse Sumeyra Aydogdu
06 Maret 2018•Update: 07 Maret 2018
Serdar Bitmez, Ayse Sumeyra Aydogdu
DOHA
Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Kemanusiaan Mark Lowcock pada Senin mengatakan bahwa rakyat Ghouta Timur berhadapan dengan ancaman kematian akibat kelaparan yang nyata.
Berbicara di konferensi di Institut Pendidikan Tinggi Doha, Lowcock mengatakan bahwa masyarakat berhadap dengan ancaman kematian akibat kelaparan nyata yang disebabkan oleh blokade yang diterapkan oleh rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad di Ghouta Timur.
Lowcock mengatakan, bantuan yang dapat masuk ke Ghouta Timur sangat terbatas.
“Ghouta Timur yang telah mengalami blokade selama bertahun-tahun merupakan salah satu daerah yang paling terkena dampak bombardir,” kata Lowcock.
Mengenai krisis kemanusiaan di Yaman, Lowcock mengatakan bahwa perjuangan melawan krisis kemanusiaan di negara itu mengharuskan dihentikannya operasi militer dan akses ke pelabuhan-pelabuhan Laut Merah, seperti Al-Hudaydah.
Rumah bagi sekitar 400.000 warga sipil, Ghouta Timur telah berada di bawah pengepungan rezim yang telah melumpuhkan kehidupan selama lima tahun terakhir. Pengepungan juga menghambat total akses kemanusiaan ke daerah tersebut.
Dalam delapan bulan terakhir, pasukan rezim telah memperketat pengepungan sehingga pengiriman makanan dan obat-obatan menjadi hampir tidak mungkin dilakukan.
Yaman dilanda perang saudara sejak 2014, ketika kelompok pemberontak Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah negara, sehingga memaksa pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melarikan diri ke Arab Saudi.
Pada 2015, Arab Saudi dan sekutunya melancarkan kampanye udara besar-besaran untuk menggulingkan pertahanan Houthi.