Rhany Chairunissa Rufinaldo
26 November 2018•Update: 26 November 2018
Yusuf Ozcan
PARIS
Polisi Prancis menahan sedikitnya 100 orang dalam protes anti-pemerintah yang dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar di negara itu pada Sabtu, menurut petugas kepolisian setempat.
Protes berubah menjadi kekerasan ketika pasukan keamanan menggunakan gas air mata untuk membubarkan para demonstran di jalan-jalan utama Paris, terutama di Champs-Elysees.
Para pengunjuk rasa yang mengenakan rompi kuning itu melancarkan protes berskala nasional sejak minggu lalu.
Sejauh ini, sedikitnya dua orang tewas, lebih dari 750 orang, termasuk 136 petugas keamanan terluka dan 693 orang ditahan selama demonstrasi yang berlangsung selama satu minggu.
Lebih dari seribu demonstran juga berkumpul di depan Istana Elysee dan menyerukan agar Presiden Emmanuel Macron mengundurkan diri.
Namun, Presiden Prancis mengecam pengunjuk rasa dan mengatakan bahwa aksi para demonstran sangat memalukan
"Sangat tidak tahu malu, orang-orang yang menyerang warga, wartawan dan politisi," cuitnya di Twitter.
Macron mengatakan tidak ada tempat untuk kekerasan di Prancis.
Menurut Menteri Dalam Negeri Prancis Christophe Castaner sekitar 106.000 orang berpartisipasi dalam kurang lebih 1.600 demonstrasi di seluruh negeri.
Demonstrasi atas kebijakan reformasi pemerintah meningkat di seluruh Prancis baru-baru ini.
Sebelumnya, jutaan orang juga menggelar demonstrasi berskala nasional pada Mei dan Juni.