MOSKOW
Moskow "sangat khawatir" dengan laporan lonjakan serangan artileri Ukraina terhadap pemberontak di wilayah timur Donbas dengan senjata yang dilarang oleh perjanjian Minsk, kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov baru-baru ini.
Berbicara pada konferensi pers di Moskow setelah pertemuan dengan timpalannya dari Yunani Nikos Dendias, Sergey Lavrov menuduh angkatan bersenjata Ukraina melanggar gencatan senjata dengan pemberontak pro-Rusia.
Menjawab pertanyaan tentang serangan militer Ukraina akan dilihat oleh Rusia sebagai penyebab perang, Lavrov mengatakan prosedur khusus telah disetujui oleh perwakilan kelompok kontak dalam kesepakatan Minsk untuk menghindari konflik semacam itu.
Di bawah langkah-langkah tambahan untuk mempertahankan gencatan senjata, otoritas Ukraina, bersama dengan pemberontak di wilayah Donetsk dan Luhansk di Donbas, berjanji untuk melaporkan penembakan kepada komandan mereka alih-alih segera menyerang balik, sehingga para perwira dapat memutuskan langkah lebih lanjut, kata Lavrov.
Menlu Rusia kemudian mengatakan "peran khusus" untuk memberikan kepatuhan pada perjanjian gencatan senjata adalah milik misi pemantauan khusus Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE).
Menurut penilaian Lavrov, misi tersebut "berusaha objektif pada tahap pertama pekerjaannya" tetapi kemudian berhenti untuk mencatat pihak mana yang memulai serangan.
"Hanya di bawah tekanan kami, terhadap upaya Ukraina untuk mencegahnya, misi pemantauan khusus sekitar tiga tahun lalu mengeluarkan laporan, yang menyebutkan siapa yang menderita pelanggaran gencatan senjata, dan bagaimana caranya.
"Ternyata kehancuran di sektor sipil dan korban di kalangan warga sipil tiga kali lebih besar di pihak milisi rakyat (pemberontak) daripada di pihak yang dikuasai angkatan bersenjata Ukraina," tutur dia.
Dalam beberapa hari terakhir, misi OSCE di wilayah tersebut melaporkan banyak serangan penembakan dan penghancuran, tanpa menunjukkan siapa yang bertanggung jawab atas sebagian besar serangan.
Rusia dan Ukraina terlibat konflik sejak permusuhan di wilayah Donbas timur pecah pada 2014 setelah Rusia mencaplok Semenanjung Krimea.