Rıskı Ramadhan
26 Maret 2018•Update: 27 Maret 2018
Gulsen Topcu
MARIB, Yaman
Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan, sedikitnya lima anak tewas atau luka-luka setiap harinya di Yaman sepanjang tahun 2017.
“Sedikitnya lima anak tewas atau mengalami luka serius setiap harinya selama 2017 di Yaman,” kata Direktur regional UNICEF untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Timur Geert Cappelaere di Amman, ibu kota Yordania.
“Pada tahun yang sama, wabah kolera dan difteri mulai merebak, dan banyak anak meninggal karena penyakit ini,” ujar dia.
Menyoroti bahwa anak-anak di Yaman memiliki kebutuhan-kebutuhan serius akibat perang yang telah berlangsung selama 3 tahun, Cappelaere mengatakan bahwa perang telah melipatgandakan masalah "gizi buruk".
Cappelaere juga menyatakan bahwa Yaman termasuk satu dari tiga negara yang memiliki jumlah anak kurang gizi tertinggi di dunia.
"Penting untuk menekankan bahwa situasi ini dapat memburuk, dan bahaya kelaparan di Yaman masih besar."
Soal kondisi pendidikan di negara tersebut, Cappelaere mengatakan bahwa sekitar 2 juta anak tidak bersekolah atau memiliki akses ke sekolah.
Cappelaere menyampaikan, 2.500 sekolah di Yaman tidak dapat berfungsi sebagaimana semestinya karena hancur dalam perang atau digunakan untuk keperluan militer dan penampungan imigran.
Menurut dia, pihak-pihak yang berperang di Yaman tidak menghormati prinsip “melindungi anak-anak” sejak awal. Cappelaere mendesak agar perang terhadap anak-anak segera dihentikan.
Selain itu, dia juga meminta pihak berwenang di negara itu untuk mengizinkan penyaluran bantuan kemanusiaan ke negara tersebut tanpa syarat.
Yaman dilanda perang saudara sejak 2014, ketika kelompok pemberontak Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah negara, sehingga memaksa pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melarikan diri ke Arab Saudi.
Pada 2015, Arab Saudi dan sekutunya melancarkan kampanye udara besar-besaran untuk menggulingkan pertahanan Houthi.
Menurut PBB, perang saudara Yaman telah menewaskan lebih dari 10.000 jiwa dan menyebabkan lebih dari 11 persen dari keseluruhan populasi mengungsi.