WASHINGTON
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Senin memperingatkan potensi "implikasi bencana" dari tindakan militer Rusia di Ukraina dan mendesak perlindungan warga sipil.
"Kami menghadapi tragedi soal Ukraina, tetapi juga krisis regional besar dengan implikasi yang berpotensi membawa bencana bagi kita semua," kata Sekjen PBB dalam sambutannya pada pertemuan darurat yang jarang terjadi di Majelis Umum PBB.
Guterres juga menyerukan diakhirinya pertempuran di Ukraina, dengan mengatakan, "Ini berkecamuk di seluruh negeri, dari udara, darat, dan laut. Itu harus dihentikan sekarang."
Dia mengatakan meski serangan Rusia dilaporkan sebagian besar menargetkan fasilitas militer Ukraina, ada "laporan kredibel" bahwa serangan Rusia menghantam bangunan tempat tinggal, infrastruktur sipil, dan target non-militer lainnya yang mengalami kerusakan.
Kekerasan yang meningkat ini “yang mengakibatkan kematian warga sipil, termasuk anak-anak, sama sekali tidak dapat diterima. Sudah cukup," kata Guterres.
"Prajurit harus kembali ke barak dan para pemimpin harus mendahulukan perdamaian," ujar dia.
Beralih ke rencana Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menempatkan senjata nuklir dalam siaga tinggi, Guterres mengatakan, "Ini adalah perkembangan yang mengerikan. Gagasan tentang konflik nuklir saja tidak dapat dibayangkan. Tidak ada yang dapat membenarkan penggunaan senjata nuklir."
"Kami menghadapi apa yang bisa dengan mudah menjadi krisis kemanusiaan dan pengungsi terburuk di Eropa dalam beberapa dekade," tambah sekjen PBB.
Guterres menyoroti dialog antara Rusia dan Ukraina, dan mengatakan, "Tidak ada kata terlambat untuk terlibat dalam negosiasi dengan itikad baik dan kemajuan (pada) semua masalah secara damai."
Sejak perang Rusia di Ukraina dimulai Kamis lalu, hal itu telah disambut oleh kemarahan dari komunitas internasional, di mana Uni Eropa, Inggris, dan AS menerapkan berbagai sanksi ekonomi terhadap Rusia.
Sejak perang dimulai Kamis lalu, lebih dari 350 warga sipil tewas dan lebih dari 1.600 terluka, menurut Kementerian Kesehatan Ukraina.