Pizaro Gozali Idrus
22 Februari 2021•Update: 22 Februari 2021
JAKARTA
Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyatakan penggunaan senjata mematikan hingga kekerasan di Myanmar tak bisa diterima menyusul kematian 3 demonstran dalam protes antikudeta.
“Saya mengutuk penggunaan kekerasan mematikan di Myanmar,” kata Antonio Guterrez dalam cuitnya di Twitter pada Minggu.
Guterres mengatakan setiap orang di Myanmar memiliki hak untuk menggelar demonstrasi secara damai.
“Saya meminta semua pihak untuk menghormati hasil pemilu dan kembali ke pemerintahan sipil,” ucap Guterres.
Sedikitnya tiga orang tewas pada Sabtu akibat tembakan pasukan keamanan Myanmar selama protes berlangsung, menurut sumber dan laporan media.
Polisi dan tentara Myanmar melepaskan tembakan ke arah kerumunan di kota terbesar kedua, Mandalay, setelah 1.000 pegawai pemerintah menolak untuk kembali bekerja di lokasi dermaga utama.
Para saksi mata mengatakan penembakan itu terjadi setelah berjam-jam terjadi ketegangan antara pasukan keamanan dan pengunjuk rasa.
Seorang relawan medis termasuk di antara mereka yang terbunuh, menurut seorang rekan yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.
"Teman saya sedang duduk di ambulans saat dia tertembak," kata dia, kepada Anadolu Agency.