Busra Nur Cakmak
09 Maret 2022•Update: 10 Maret 2022
ANKARA
Dunia sedang menunggu pertemuan tripartit tingkat tinggi antara Turki, Rusia, dan Ukraina, yang akan berlangsung pada Kamis di provinsi Antalya sebagai bagian dari upaya Turki menengahi negara-negara yang bertikai.
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengumumkan pertemuan antara Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Menteri Luar Negeria Ukraina Dmytro Kuleba pada Senin lalu.
"Kami akan mengadakan pertemuan ini dalam format tripartit di Antalya pada hari Kamis, 10 Maret."
Cavusoglu mengaku akan menghadiri pertemuan itu karena kedua pemimpin telah meminta kehadirannya.
Dia menambahkan pertemuan itu akan mempertemukan para pejabat tinggi Rusia dan Ukraina untuk pertama kalinya sejak perang dimulai pada 24 Februari.
Cavusoglu mengharapkan pertemuan itu akan menjadi "titik balik" dan "langkah penting" menuju perdamaian dan stabilitas.
Ankara juga akan "terus melakukan upaya untuk perdamaian abadi," tambah dia.
Sejak Rusia melancarkan serangannya ke Ukraina, Turki telah melaksanakan diplomatik aktif untuk menyatukan pihak-pihak terkait, kata Cavusoglu.
Presiden Recep Tayyip Erdogan juga telah melakukan 19 panggilan telepon kepada para pemimpin dunia.
"Saya juga melakukan sekitar 40 (telepon)," tambah menteri.
"Selama periode ini, saya berbicara dengan Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba enam kali dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov empat kali, tidak termasuk percakapan kami melalui pesan singkat," tambahnya.
Menurut dia, Kuleba menginginkan pertemuan langsung antara Presiden Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai pengambil keputusan akhir.
Delegasi Rusia dan Ukraina telah bertemu tiga kali di kota Brest Belarusia, yang terbaru pada Senin.
Delegasi Moskow dipimpin oleh penasihat presiden Rusia Vladimir Medinsky, sementara Kyiv dipimpin oleh Mikhail Podolyak, penasihat Zelenskyy.
Setelah pertemuan tersebut, Podolyak menyatakan di Twitter bahwa pembicaraan tersebut menghasilkan langkah-langkah "positif kecil" dalam mengembangkan koridor kemanusiaan.
Posisi kedua pihak
Moskow memiliki berbagai syarat untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Salah satunya mereka ingin Ukraina mengamandemen Konstitusinya untuk menyatakan dengan tegas bahwa Kyiv tidak akan bergabung dengan aliansi apa pun dan Krimea adalah wilayah Rusia.
Pada Februari 2019, parlemen Ukraina menyetujui amandemen Konstitusi yang menetapkan keinginan Ukraina bergabung ke NATO.
Kyiv ingin perang di wilayahnya berakhir dan pasukan Rusia mundur sepenuhnya dari tanah Ukraina, termasuk Krimea dan Donbas.
Putaran pertama negosiasi berlangsung pada 28 Februari di Gomel, Belarusia, dekat perbatasan Ukraina, dan berlangsung selama lima jam.
Pembicaraan damai kedua berlangsung pada 3 Maret, dan yang ketiga berlangsung pada 7 Maret di Brest.
Rusia mengumumkan pada Senin makan mendeklarasikan gencatan senjata "sementara" di ibukota Ukraina Kyiv dan kota-kota Mariupol, Kharkiv, dan Sumy mulai pukul 10 pagi waktu setempat (0700GMT) untuk memastikan evakuasi warga sipil.
Perang Rusia di Ukraina, yang dimulai pada 24 Februari, telah menarik kecaman internasional, menyebabkan sanksi keuangan bagi Moskow dan mendorong eksodus perusahaan global dari Rusia.
Setidaknya 474 warga sipil telah tewas dan 861 terluka di Ukraina sejak awal perang, menurut PBB.
Sekitar 2 juta orang juga telah melarikan diri ke negara-negara tetangga, kata Badan Pengungsi PBB.