Rıskı Ramadhan
23 Maret 2018•Update: 23 Maret 2018
Sami Anwar Rashad Ahmed, Gulsen Topcu
KAIRO
Mantan Koordinator Hubungan Libya-Mesir Gaddaf al-Dam membenarkan adanya dukungan dana yang diberikan kepada mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy.
Berbicara kepada saluran televisi France24 di Kairo, Gaddaf al-Dam yang juga sepupu pemimpin terguling Libya Muammar Gaddafi mengatakan bahwa dia mengetahui perihal pendanaan tersebut dari Muammar Gaddafi dan pejabat-pejabat lainnya.
Dia mengaku bahwa informasi yang dia dapat itu akurat.
Menanggapi pertanyaan soal jumlah uang yang diberikan, Gaddaf al-Dam mengatakan, “Saya tidak soal itu. Yang saya tahu adalah kami membantu Sarkozy karena dia sekutu kami.”
“Pada saat itu, Gaddafi sedang berusaha mendirikan Uni Afrika, dan untuk tujuan ini kami membutuhkan sahabat dekat di Elysee. Kami mendukung Sarkozy agar dia tetap menjadi sekutu strategis kami. Kenyataan ini tidak dapat dipungkiri,” kata dia.
Pada 2016, seorang pengusaha bernama Ziad Takieddine mengatakan bahwa dia membawa uang sebesar EUR 5 juta dari Libya untuk Sarkozy pada akhir tahun 2006.
Pernyataan tersebut membenarkan keterangan mantan direktur unit intelijen militer Libya Abdullah Senussi pada 2012 di Libya.
Pemimpin terguling Libya Gaddafi, dalam sebuah wawancara yang dirilis sebelum kematiannya mengatakan, "Saat menjabat Menteri Dalam Negeri (pada 2007), Sarkozy mendatangi saya dan meminta uang, saya pun memberikannya. Berkat saya dia memenangkan pemilu.”
Sarkozy diduga menerima uang secara ilegal dari Gaddafi untuk melangsungkan kampanye pemilihan presiden Prancis pada tahun 2007.
Investigasi awal terkait dugaan tersebut telah dimulai pada tahun 2013. Usai penyelidikan awal selama lima tahun, Sarkozy ditahan Selasa pagi.
Setelah penahanan selama 30 jam, investigasi resmi telah dimulai terhadap Nicolas Sarkozy dengan tuduhan melakukan korupsi, pendanaan kampanye ilegal, dan menyembunyikan dana publik Libya.