Berk Kutay Gokmen
25 Juli 2026•Update: 25 Juli 2026
Pandangan masyarakat Amerika Serikat terhadap Israel semakin memburuk dalam beberapa tahun terakhir, menurut sejumlah survei terbaru yang menunjukkan meningkatnya kritik terhadap operasi militer Israel di Jalur Gaza serta melemahnya dukungan lintas kelompok politik, termasuk di kalangan Partai Republik muda.
Survei Pew Research Center yang dirilis pada Juli menemukan bahwa warga Amerika semakin kritis terhadap rakyat maupun pemerintah Israel dalam beberapa tahun terakhir, sementara pandangan mereka terhadap warga Palestina, Otoritas Palestina, dan Hamas relatif tidak banyak berubah.
Persepsi negatif terhadap Israel meningkat di kalangan dua partai politik utama, berbagai kelompok usia, dan sebagian besar kelompok agama.
Pada 2026, sebanyak 42 persen warga Amerika memandang rakyat Israel secara negatif, naik dari 28 persen pada 2019. Sementara itu, pandangan positif terhadap pemerintah Israel turun menjadi 32 persen dari 41 persen pada periode yang sama. Warga Amerika juga menunjukkan penilaian yang semakin negatif terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Hasil serupa ditemukan dalam survei AP-NORC yang juga dirilis bulan ini. Survei tersebut menunjukkan bahwa sikap masyarakat Amerika terhadap Israel semakin memburuk, dengan perubahan terbesar berasal dari kalangan Partai Demokrat yang mengkritik tindakan Israel di Gaza.
Survei itu mencatat 40 persen warga Amerika menilai Amerika Serikat "terlalu mendukung" Israel dalam konfliknya dengan Palestina, meningkat dari 37 persen pada Januari 2024 dan 27 persen pada Agustus 2023, sebelum serangan 7 Oktober.
Di kalangan Partai Demokrat, 58 persen responden menilai Washington terlalu berpihak kepada Israel, naik dari 45 persen dua tahun sebelumnya. Sementara itu, di kalangan Partai Republik, angkanya hanya meningkat tipis menjadi 27 persen dari 25 persen.
Laporan Axios bulan lalu juga menyebut dukungan terhadap Israel mulai melemah di kalangan anggota Partai Republik yang lebih muda, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan dukungan tradisional partai tersebut terhadap Israel.
Dukungan dari Partai Republik disebut menghadapi tekanan yang semakin besar setelah operasi militer Israel menghancurkan sebagian besar Jalur Gaza dan Netanyahu berselisih dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait upaya mengakhiri perang dengan Iran.
Selama ini Netanyahu berupaya mengimbangi menurunnya dukungan dari Partai Demokrat dengan mempererat hubungan dengan Partai Republik. Namun, hasil survei terbaru dan kritik dari sejumlah tokoh konservatif menunjukkan dukungan terhadap Israel juga mulai terkikis di dalam Partai Republik, terutama di kalangan pemilih muda.
Survei Pew pada April menemukan bahwa empat dari 10 anggota Partai Republik memiliki pandangan negatif terhadap Israel. Angka itu meningkat menjadi 57 persen di kalangan anggota Partai Republik berusia 18 hingga 49 tahun, dibandingkan 25 persen pada kelompok usia 50 tahun ke atas.
Sementara itu, survei Quinnipiac University yang dirilis bulan lalu menunjukkan satu dari lima anggota Partai Republik menilai Amerika Serikat terlalu mendukung Israel, tiga kali lebih tinggi dibandingkan tingkat yang tercatat setelah serangan 7 Oktober.
Survei Critical Issues dari University of Maryland juga menemukan bahwa kurang dari separuh anggota Partai Republik, yakni 46 persen, menganggap tindakan militer Israel di Gaza dapat dibenarkan sebagai bentuk pembelaan diri. Di kalangan anggota Partai Republik berusia 18 hingga 34 tahun, hanya 22 persen yang mendukung tindakan Israel.