05 Oktober 2017•Update: 06 Oktober 2017
Canberk Yuksel
NEW YORK
Teman perempuan penembak yang menewaskan lusinan orang di Las Vegas pada Rabu membantah mengetahui apapun tentang rencana serangan tersebut.
Minggu lalu, Stephen Paddock menembaki kerumunan ribuan penonton konser di Las Vegas dari kamar hotelnya di Mandalay Bay Resort and Casino.
Aksinya itu membantai 59 orang dan melukai 500 lainnya. Paddock kemudian melakukan bunuh diri.
Marilou Danley, 62 tahun, tiba di AS Selasa malam dari Filipina dan langsung diinterogasi oleh pihak FBI.
"Tak terpikirkan oleh saya bahwa dia sedang merencanakan aksi serangan terhadap siapapun," kata Danley melalui pengacaranya.
"Saya akan bekerjasama dengan penyelidikan ini. Saya akan lakukan apapun yang diperlukan untuk membantu meringankan penderitaan korban," baca pernyataan Danley. "Mohon hormati privasi saya dan keluarga."
Salah satu adik Danley yang tidak ingin namanya disebutkan mengatakan kepada CNN Australia bahwa Danley tidak tahu tujuan perjalanannya ketika Paddock menyuruhnya meninggalkan AS.
"Dia bahkan tidak tahu dia akan ke Filipina hingga Steve mengatakan, 'Marilou, saya menemukan tiket murah untukmu ke Filipina'," kata adik Danley dalam sebuah wawancara pada Rabu.
Selain itu, saudari Danley mengatakan Paddock mengirim Danley uang sebanyak USD 127.000 tanpa penjelasan.
Polisi menemukan jasad Paddock diantara lusinan senjata api yang disimpannya di kamar hotel Mandalay Bay Resort, termasuk sebuah senapan modifikasi yang bisa menembakkan peluru dengan kecepatan tinggi.
Pihak berwenang masih menyelidik motif aksi pembantaian massal Paddock.