Rhany Chairunissa Rufinaldo
25 Oktober 2019•Update: 28 Oktober 2019
Servet Gunerigok
WASHINGTON
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis berjanji tidak akan membiarkan Daesh untuk mengambil alih ladang minyak di Suriah utara.
"Ladang Minyak yang dibahas dalam pidato saya di Turki/Kurdi kemarin dikuasai oleh ISIS sampai Amerika Serikat mengambilnya dengan bantuan Kurdi. Kami tidak akan pernah membiarkan ISIS memiliki ladang-ladang itu!" kata Trump melalui Twitter, menggunakan nama lain untuk kelompok teror Daesh.
Pada Rabu, Trump mengatakan bahwa Washington akan menyisakan sejumlah kecil pasukan AS di sekitar ladang minyak Suriah.
Presiden tidak merinci di mana dan berapa banyak pasukan yang akan ditempatkan, tetapi dia mengatakan bahwa AS akan melindungi minyak dan memutuskan apa yang akan dilakukan di masa depan.
Dalam cuitannya, Trump mengatakan dia melakukan percakapan dengan komandan YPG/PKK Mazloum Abdi dan memberi sinyal bahwa para teroris PKK/YPG maju ke ladang-ladang minyak tanpa menjelaskan lebih lanjut.
"Aku benar-benar menikmati percakapanku dengan Jenderal @MazloumAbdi. Dia menghargai apa yang telah kita lakukan dan aku menghargai apa yang dilakukan oleh Kurdi. Mungkin sudah waktunya bagi Kurdi untuk mulai menuju ke Wilayah Minyak!" tulis Trump.
Turki meluncurkan Operasi Mata Air Perdamaian pada 9 Oktober untuk mengamankan perbatasannya dengan menghilangkan unsur-unsur teroris guna memastikan kembalinya pengungsi Suriah dengan aman dan integritas wilayah Suriah.
Pada Selasa, Turki dan Rusia mencapai 10 poin kesepakatan tentang Suriah selama pertemuan bersejarah antara kedua presiden, beberapa jam sebelum masa penangguhan operasi berakhir.
Ankara dan Moskow mencapai kesepakatan di mana teroris PKK/YPG akan mundur 30 kilometer (19 mil) dari perbatasan Turki dengan Suriah utara dalam waktu 150 jam dan pasukan keamanan dari Turki dan Rusia akan melakukan patroli bersama di sana.
Dalam lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak dan bayi.