Fatma Zehra Solmaz
02 Januari 2026•Update: 08 Januari 2026
ISTANBUL
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran bahwa Washington siap mengambil tindakan jika aparat keamanan negara itu menembaki dan membunuh pengunjuk rasa damai di tengah gelombang protes yang dipicu krisis ekonomi.
Peringatan tersebut disampaikan Trump pada Jumat (2/1) melalui platform Truth Social miliknya. Ia menyatakan Amerika Serikat akan turun tangan apabila Iran melakukan kekerasan terhadap demonstran.
“Jika Iran menembaki dan dengan kejam membunuh pengunjuk rasa damai, seperti yang biasa mereka lakukan, Amerika Serikat akan datang menyelamatkan mereka. Kami dalam kondisi siaga dan siap bertindak,” tulis Trump.
Pernyataan itu muncul ketika laporan media Iran dan kelompok pemantau hak asasi manusia mengonfirmasi adanya korban jiwa dalam bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan.
Kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, bersama kelompok HAM Hengaw, melaporkan sedikitnya dua orang tewas di Kota Lordegan, Provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, Iran barat daya. Selain itu, tiga orang dilaporkan meninggal dunia di Azna dan satu orang di Kuhdasht.
Menurut Fars, lebih dari 150 orang berkumpul di wilayah Lordegan pada Kamis (1/1), meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah dan melempari bangunan publik dengan batu. Seorang pejabat setempat yang tidak disebutkan namanya mengatakan bentrokan terjadi setelah polisi membubarkan massa.
“Setelah polisi turun tangan, sebagian pengunjuk rasa melepaskan tembakan ke arah aparat keamanan dan melukai sejumlah petugas, sementara dua orang tewas dalam bentrokan tersebut,” kata pejabat itu, seperti dikutip Fars.
Aksi protes bermula pada 28 Desember di Grand Bazaar Teheran, menyusul anjloknya nilai tukar rial Iran terhadap mata uang asing serta memburuknya kondisi ekonomi. Demonstrasi kemudian menyebar ke sejumlah kota lain di seluruh negeri.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya mengakui adanya ketidakpuasan publik. Ia menyatakan pemerintah bertanggung jawab atas persoalan ekonomi yang dihadapi negara itu dan meminta para pejabat tidak menyalahkan pihak luar, termasuk Amerika Serikat.